Rahasia Meede : Misteri Harta Karun VOC

Rahasia Meede : Misteri Harta Karun VOC

Judul Rahasia Meede : Misteri Harta Karun VOC
No. ISBN 9789791140997
Penulis E.S. Ito
Penerbit Hikmah
Tanggal terbit September – 2007
Jumlah Halaman 671
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) -
Kategori Sejarah Fiksi

SINOPSIS:
Sebuah terowongan tua ditemukan di perut bumi Jakarta. Pintu masuknya terletak dalam Museum Sejarah Jakarta. Rutenya diyakini menuju tempat persembunyian emas VOC.

Sementara itu, di atas permukaan, Jakarta dicekam oleh teror pembunuhan misterius. Satu per satu orang penting ditemukan tewas mengenaskan, di tempat-tempat berawalan huruf B, disertai pesan aneh berupa Tujuh Dosa Sosial yang pernah dicetuskan oleh Mahatma Gandhi. Entah apa makna semua itu.

Het Geheim van Meede–Rahasia Meede, misteri emas VOC itu, perlahan terungkap. Dan, untuk mendapatkan jawabannya, seorang laki-laki muda intelijen militer harus berhadapan dengan seorang anarkis, karibnya ketika sama-sama sekolah di SMA Taruna Nusantara. Tak hanya bersaing dalam hal itu, mereka pun sama-sama berusaha mencuri perhatian seorang gadis Belanda, seorang mahasiswi peneliti Sejarah Ekonomi Kolonial, yang menyimpan lebih banyak misteri dari apa yang ditampakkannya.

Lika-liku pencarian Rahasia Meede melintasi sejarah ratusan tahun Indonesia, melewati pelarian, pengkhianatan, dan persahabatan. Kegelisahan sebuah generasi berusaha menemukan jalan keluarnya sendiri.

***

“Menantang kecerdasan, logika, dan cara kita memandang dunia nyata… Saya merekomendasikan karya ini.”
–Effendi Ghazali, Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia

“Novel yang dahsyat detail sejarahnya dan inspiring, Pram muda telah lahir…”
–M. Fadjroel Rachman, esseis dan penyair

“Contoh sastra baru di Indonesia–thriller sejarah dengan kombinasi fiksi dan fakta. Ini sejalan dengan aliran sastra dunia yang baru. Kita akan dibawa melompat ke masa VOC, lalu revolusi Indonesia, dan tiba-tiba ada di masa kini.”
–Harry A. Poeze, Direktur penerbitan KITLV Press, Leiden, Belanda

RESENSI
oleh: E.S. Ito
Sumber: http://rahasiameede.blogspot.com

Di Den Haag pada akhir tahun 1949, perundingan penting antara  Indonesia dan Belanda tengah dilakukan, konferensi meja bundar. Setelah menyepakati banyak hal, perundingan itu menemui jalan buntu ketika Belanda meminta Indonesia untuk melunasi hutang-hutang yang pernah dibuat oleh pemerintah kolonial sebagai syarat untuk pengakuan kedaulatan. Sumitro bersuara lantang menolak hutang yang tidak pernah dibuat Indonesia itu. Delegasi Hatta pun dilanda dilema. Bukankah Utang jagal bagi kedaulatan? Tetapi itulah masa ketika segalanya tampak mungkin. Bila manusia menyerah maka alam tidak, ia mengutus seseorang dari masa lalu. Dalam dingin malam yang membekukan, pria misterius itu meyakinkan delegasi Hatta untuk menerima persyaratan itu. “Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen” ucapnya meyakinkan.

Lebih dari lima puluh tahun kemudian, wartawan muda koran Indonesiaraya Batu Noah Gultom mencium jejak pembunuhan berantai dengan korban orang penting di Boven Digoel Papua. Ini melengkapi tiga pembunuhan misterius sebelumnya di Bukittinggi, Brussel dan Bangka. Mata rantai pembunuhan itu itu adalah kesamaan huruf “B” pada huruf awal lokasi pembunuhan. Tetapi yang lebih penting adalah pesan yang diterima keluarga korban. Dosa-dosa sosial sebagaimana pernah ditulis oleh Mahatma Gandhi dalam majalah Young India pada tahun 1925. Penelusuran itu membawa Batu untuk mengungkap peristiwa kematian orang-orang bertato di utara Jakarta beberapa tahun silam. Misteri tato yang membawanya dalam petualangan di pulau Siberut, Mentawai.

Pada saat yang bersamaan tiga orang peneliti dari Belanda, Erick Marcellius de Noiijer, Rafael Alexander van de Horst dan Robert Stephane Daucet terjebak dalam gairah ilmu untuk menemukan de ondergrondse stad, kota bawah tanah di daerah kota tua Jakarta. Penelitian yang tekun menuntun mereka untuk mengungkap rahasia ratusan tahun. Kuncinya ada pada lukisan sketsa Batavia lama karya Johannes Rach, seorang pelukis Denmark yang bekerja untuk VOC, tiga setengah abad silam. Mereka menemukannya dalam bentuk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akan tetapi baru saja penemuan itu akan mereka rayakan, sebuah tragedi terjadi. Masih bisakah mereka kembali ke Belanda?

Cathleen Zwinckel adalah pendatang lain dari Belanda. Mahasiswa pascasarjana di Universitas Leiden itu mengaku tengah menyelesaikan thesis Master-nya tentang Sejarah Ekonomi Kolonial. Oleh profesornya, ia dititipkan pada CSA, sebuah lembaga think-thank terkemuka di Jakarta. Tetapi diam-diam ia memiliki agenda lain. Gadis cantik itu datang juga untuk mengungkap misteri ratusan tahun. Oleh profesornya, ia diminta untuk memecahkan misteri Surat Kew yang dikeluarkan oleh William V pada tahun 1795. Surat yang akan menuntunnya pada misteri terbesar yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik, Het Geheim van Meede, Rahasia Meede. Kunci misteri itu ada pada sosok Suhadi, seorang arsiparis senior Arsip Nasional Republik Indonesia. Tetapi pekerjaan itu tidak semudah bayangan Cathleen. Jakarta mulai menunjukkan murkanya. Ia diculik kemudian terdampar di kepulauan rempah-rempah. Sosok gelap itu mulai terungkap; ia menginginkan semuanya. Laki-laki muda di balik penculikan itu bernama Kalek. Buronan nomor satu yang sempat dinyatakan tewas, dalang di balik peristiwa penyerbuan bersenjata dan kematian orang-orang bertato pada tahun 2002.

Pembunuhan berantai itu tidak berhenti. Tetapi Batu mulai bisa mencium jejak pembunuhnya. Tetapi di tengah-tengah penemuan itu, Parada Gultom, redaktur yang membawahi Batu di Indonesiaraya hilang tanpa jejak. Menemukan dirinya dalam ruang gelap dan kemudian dipaksa bicara setelah disuntik dengan Scopolamine, serum pengakuan. Sementara itu, Cathleen terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang ia takutkan dari Kalek. Tentang VOC, Monsterverbond hingga pembunuhan Pieter Erberveld pada bulan April 1722 di Batavia. Cathleen Zwinckel bertaruh dengan nasibnya. Sementara di balik ketegangan itu seorang guru biasa dipanggil Guru Uban hidup dalam kedamaian di Bojonggede. Tetapi di balik penampilan tenang, ia menyimpan sebuah rahasia.

Lembar demi lembar misteri mulai terungkap ketika Lalat Merah, nama sandi untuk seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus memburu Kalek. Mereka berdua adalah teman karib ketika masih menjadi siswa SMA Taruna Nusantara. Tetapi kemudian masa depan menyodorkan pilihan pahit dalam persahabatan mereka; satu memburu yang lainnya. Dalam perburuan, Kalek mengirimkan isyarat dalam bentuk dialog Nabi Musa dan Nabi Khidr. Perlahan Lalat Merah membongkar misteri ini sambil terus berusaha menyelamatkan Cathleen Zwinckel. Pertanyaan-pertanyaan mulai terjawab, tentang peristiwa di tahun 2002, 1949, 1722, hingga masa akhir pemerintahan Deandels di Batavia. Pembunuhan berantai, kota bawah tanah, surat Kew, Monsterverbond, Erberveld, KMB berujung pada satu misteri harta karun VOC.

Bisakah rentetan pembunuhan itu dihentikan dan bagaimana sebenarnya jalinan panjang sejarah 400 tahun bermuara pada satu sosok manusia di masa kini?

Menggagas Sejarah dengan Timbunan Cerita
Oleh : DAMHURI MUHAMMAD
Sumber:  Media Indonesia, 01 Desember 2007

Tak perlu diragukan bahwa gerak kepengarangan tak henti-henti memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara ditimbun, dan disimpan sebagai ‘stock cerita’. Tapi, tidak banyak pengarang yang terampil memayungi koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya Dan Brown yang piawai menghubungkaitkan konstruksi ceritanya dengan alur hidup seniman besar, Leonardo Davinci, hingga novelis itu berhasil melahirkan The Davinci Code yang menggemparkan. Begitu juga dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses mendedahkan The Dante Club, novel yang telah melambungkan namanya dalam kancah sastra dunia.

Rahasia Meede, novel karya pengarang muda, Es Ito ini, juga bertolak dari semangat membingkai kisah dengan gagasan besar sebagaimana dilakukan Dan Brown dan Matthew Pearl. Ia memayungi kisahnya dengan sejarah kartel dagang Belanda, VOC, sejak masa awal, masa kejayaan, hingga fase kebangkrutannya, 1799. Pusaran kisahnya berkisar di seputar perburuan harta karun VOC yang bermula dari kedatangan laki-laki misterius ke penginapan delegasi Indonesia untuk Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Kala itu, para juru runding Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Pihak Belanda menyodorkan klausul tentang pengalihan utang Hindia Belanda sebesar 4,3miliar gulden kepada Indonesia. Bung Hatta sudah mencari jalan tengah, tapi para perunding tak berhasil mencapai mufakat. Orang asing itu memberikan selembar kertas lusuh pada seorang delegasi, Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen! (Terima itu perundingan! Indonesia tidak akan rugi!), begitu ia berbisik.

Tentu saja Indonesia tak bakal rugi, sebab yang diserahkan laki-laki itu adalah dokumen rahasia berisi petunjuk tentang lokasi penyimpanan emas batangan milik VOC. Celakanya, dokumen itu raib, tak ditemukan di dalam peti dokumen KMB yang dibawa delegasi Indonesia. Inilah cikal soal setiap rangkaian cerita dalam novel setebal 671halaman ini. Tapi, pengarang tidak langsung menukik pada perburuan harta karun yang tertimbun selama lebih dari tiga abad itu. Es Ito malah membuka cerita dengan kasus pembunuhan berantai yang meninggalkan sejumlah tanda tanya besar. Dalam waktu kurang lebih lima bulan, ditemukan lima mayat yang semuanya terbilang orang penting. Mayat Saleh Sukira (ulama) ditemukan Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (pengusaha) dibunuh di Brussels, Nursinta Tegarwati (anggota DPR) dibunuh di Bangka, JP Surono (birokrat) dibunuh di Boven Digoel dan Nono Didaktika (peneliti) dibunuh di Banda Besar. Wartawan harian Indonesiaraya, Batu Noah Gultom, mencurigai ini bukan pembunuhan biasa. Lima kali pembunuhan terjadi di kota yang selalu diawali huruf B (Bukittinggi, Brussels, Bangka, Boven Digoel, Banda Besar). Lebih jauh, Batu menyebut kasus ini dengan ‘pembunuhan Gandhi’. Sebab, di setiap tubuh korban selalu ditemukan pesan, antara lain ; peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, politik tanpa etika, kekayaan tanpa kerja keras, dan sains tanpa humanita. Pesan-pesan itu adalah lima item dari ‘Tujuh Dosa Sosial’ dalam pemikiran Mahatma Gandhi. Andai dugaan itu benar, tentu akan ada dua korban lagi dengan pesan ; pengetahuan tanpa karakter dan kesenangan tanpa nurani. Anehnya lagi, setiap TKP pembunuhan adalah kota-kota yang pernah dikunjungi Bung Hatta semasa hidupnya. Jadi, pembunuhan itu merujuk pada dua nama tokoh penting ; Gandhi dan Hatta. Satu lagi gagasan besar meresap dalam konstruksi cerita novel ini.

Satu selubung misteri belum tersingkap, pengarang sudah merancang keterkejutan baru. Batu makin dipusingkan oleh penculikan Cathleen Zwinckel, mahasiswi universitas Leiden yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah ekonomi kolonial di Jakarta. Sebelum diculik, Cathleen dititipkan oleh Prof. Huygens (pembimbingnya) di lembaga penelitian partikelir, Central Strategic Affair (CSA). Redaktur senior Indonesiaraya, Parada Gultom, juga hilang entah ke mana. Batu hampir memastikan bahwa dalang semua peristiwa itu adalah gerakan bawah tanah yang menyebut dirinya ; Anarki Nusantara. Sebelumnya, kelompok pengacau yang dipimpin Attar Malaka itu juga dituduh sebagai otak penyerangan bersenjata dan perusakan gedung di sebelah utara Jakarta.

Dalam membingkai suspense-fiction dengan latar belakang sejarah VOC, pengarang berani untuk tidak berjarak dengan realitas kekinian. Dengan leluasa, Es Ito menggiring pembaca ke dalam suasana Batavia di masa gubernur jenderal Cornelis J Spellman (1682) dan sepak terjang Monsterverbond (persekutuan rahasia yang mengendalikan VOC), lalu dengan sangat tiba-tiba ia mengungkap penemuan terowongan bawah tanah (De Ondergrondse Stad) di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Terowongan itu diduga berujung di tempat penyimpanan dokumen rahasia tentang harta karun VOC yang hilang sejak 1949. Pada saat yang sama, Es Ito memotret suasana Jakarta hari ini, ia menyebut ‘Bis Transjakarta’, Mikrolet S-11 jurusan Pasar Minggu-Lebak Bulus dan KRL Bojongggede Ekspress. Realitas yang sangat ‘menyehari’ bagi warga Jakarta hari ini. Agak ganjil ketika Es Ito menghubungkan ‘pembunuhan Gandhi’ (peristiwa yang terjadi di tahun 2000-an) dengan harian Indonesiaraya, sementara harian itu sudah gulung tikar sejak 1980-an. Ini bisa merusak asosiasi pembaca dan mencemari nalar cerita.

Makin ke ujung, buku ini makin mengejutkan. Batu Noah Gultom ternyata bukan wartawan biasa, ia anggota intelijen militer yang menyusup di Indonesiaraya guna melacak persembunyian Attar Malaka (sebelum buron ia bekerja di sana). Saat menyelamatkan Cathleen dari penculikan, Batu mengaku polisi bernama Roni, padahal ia adalah Batu August Mendrofa, intelijen militer dengan nama sandi ‘Lalat Merah’. Sebenarnya Batu tahu pelaku penculikan Parada Gultom. Redaktur senior itu ‘diambil’ oleh orang-orang suruhan Darmoko, jenderal purnatugas, pemimpin ‘Operasi Omega’ untuk membasmi antek-antek Anarki Nusantara. Parada diinterogasi untuk mengorek informasi perihal keterlibatan Attar Malaka dalam penyerangan bersenjata, perusakan gedung, pembunuhan berantai dan penculikan Cathleen.

Batu yang sudah berhasil mengelabui orang-orang Indonesiaraya, menipu Cathleen, bahkan berhasil membekuk Attar Malaka, ternyata masih jadi pecundang dalam sebuah permainan yang lebih besar. Permainan itu dikendalikan Darmoko, orang yang ingin memiliki emas batangan warisan VOC untuk pembelian senjata guna melakukan gerakan makar. Suryono Lelono (CSA), Darmoko (Operasi Omega) dan Prof. Huygens (Oud Batavie) bersekongkol mengambinghitamkan kelompok Anarki Nusantara sebagai pelaku pembunuhan orang-orang bertato pasca kekisruhan di Jakarta Utara dan ‘pembunuhan Gandhi’, padahal pelakunya adalah Darmoko dan Suryo Lelono. Lima orang penting yang tewas mengenaskan itu dibunuh, sebab mereka terlalu banyak tahu tentang rencana besar Darmoko dan Suryo Lelono. Eksekutor ‘pembunuhan Gandhi’ seorang guru sejarah yang sangat terobsesi pada Hatta dan Gandhi. Ia bukan guru biasa, tapi mantan anggota intelijen militer yang pernah terlibat dalam Operasi Pidie dengan kode sandi ‘Melati Putih’. Sejak lama, ia di bawah kendali Darmoko, hingga berbalik melakukan kekerasan sebesar pesan perdamaian yang diusung Hatta dan Gandhi. ‘Melati Putih’ menerima pesan pembunuhan yang selalu mengatasnamakan Anarki Nusantara, padahal itu hanya akal bulus Darmoko. Dua sejawat sesama alumni SMA Taruna Nusantara, Batu dan Kalek alias Attar Malaka akhirnya bergabung untuk menggagalkan penggalian emas batangan di pulau Onrust. Attar Malaka berhasil menyelamatkan Cathleen sebelum Batu ditembak oleh anak buah Darmoko. Tak lama kemudian, Kalek menarik pemicu granat di dalam terowongan panjang yang setiap batu batanya berisi batangan emas.

Buku ini tidak berpretensi untuk disebut ‘novel sejarah’ sebagaimana dinobatkan oleh para komentator di sampul depan. Pengarang hanya membingkai kompleksitas cerita dengan detailitas sejarah Batavia Tempoe Doeloe. Setidaknya ada dua pilihan ; cerita atau sejarah? Atau ‘jangan-jangan’ kita memang lebih gampang membangun kesadaran sejarah bila ‘diumpan’ dengan sederet cerita. Apa mau dikata…

About these ads

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 30, 2011, in E.S. Ito, Fiksi Sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: