Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan

SERIBU KUNANG-KUNANG DI MANHATTAN

Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti

Seribu Kunang-kunang di Manhattan diterjemahkan dalam 13 bahasa daerah. Cerpen ini bersetting Amerika, karena cerpen ini menampilkan problem sosiologis perubahan-perubahan masyarakat agraris ke masyarakat industri, cerpen ini juga merekam simbol-simbol modernitas yang sangat sukar dialihkan pada nuansa sosiologis bahasa daerah, selain itu tokoh-tokohnya tetap tampil dengan karakter yang tidak bisa larut, masing-masing tetap pada pandangan dunianya.

Resensi:

Senyum, dalam ungu
Goenawan Mohamad
19 MEI 1973

INILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayan mengutip perubahan itu dalam cerita Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, cerita kedua dan yang terpanjang dalam kumpulan ini. Secara tipikal, dia tidak menyatakan adakah dia setuju atau tidak dengan karikatur tentang New York tersebut. Namun 6 buah cerita pendek yang ditulisnya selama ia hidup di kota itu semuanya dengan latar Manhatan (sebuah “belantara”, katanya) menampilkan kota jutaan itu sebagai dunia yang menarik, tapi murung. “Aku melihat ke luar jendela. Ribuan pencakar langit kelihatan seperti gunduk-gunduk bukit yang hitam, kaku dan garang.”

Begitulah, New York sebuah paradoks. Jutaan manusia hidup di dalamnya, tapi ia nampaknya lengang. Di apartemennya sang isteri Indonesia kesepian, juga seorang wanita ganjil yang memasang namanya sebagai Madame Schlitz: seorang wanita entah dari mana, tinggal hanya bersama seekor anjing yang dilatihnya menyanyi, sembari ia sendiri belajar yoga dan kepada tamunya menceritakan biografinya yang mungkin tidak betul — untuk kemudian menghilang tanpa bekas.

Atau Jane dan Marno. Si wanita berpisah dari suaminya dan si pria berpisah dari isteri dan tanah airnya. Mereka berpacaran. Kemudian rutin dan bosan. Si wanita mengulang-ulang cerita yang lapuk untuk mengisi kehampaan bicara, tapi si pria terkenang akan hal lain: isterinya, bunyi cengkerik dan “ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa”. Keduanya berpisah. Dan lihatlah si Sybil : gadis 15 tahun yang tersia-sia (ibunya yang miskin lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur bersama majikannya), tiba-tiba saja menemukan semacam penglepasan diri dalam suatu tindakan tanpa rencana, ia membunuh si Susan, 6 tahun, yang seharusnya dijaganya.

Lebih merasa tersiksa lagi kakek Charlie Si kakek menjalani hari-hari tuanya di Central Park, main karousel setiap hari seperti anak-anak membayangkan dan sebagai tokoh legendaris ketua suku Indian Chief Sitting Bull, untuk kemudian menemui “pacarnya”, nenek Martha, dengan siapa ia menaburkan makanan untuk burung-burung seraya mengeluarkan perlakuan buruk anak dan menantu mereka masing-masing Chief Sittilg Bull bisa merupakan ilustrasi yang baik buat studi Simone de Bouvoire tentang nasib orang-orang lanjut usia di masyarakat industri oknum yang tak lagi berguna, seperti sepah, yang mencari harga dirinya dalam hal-hal yang kacau oleh ketinggalan zaman.

Donat Cerita Chief Sitting Bull ini menunjukkan kemampuan Kayam yang khas dengan secercah sketsa saja, ia sekaligus menampilkan beberapa tokoh lengkap dengan konteks sosial dan liku-liku psikhologisnya — seolah-olah tak sengaja. Kayam nampak mempunyai wawasan tentang soal-soal ini, tapi lebih dari itu ia memang mempunyai antena yang bisa menangkap vibrasi yang halus. Tapi serentak dengan itu, dikendalikannya kepekaannya untuk menghindari kesentimentilan. Ciri Kayam di sini juga adalah humor: rasa humornya adalah semacam daya tolak dan daya tarik. Dalam saat-saatnya yang baik Kayam bercerita seperti bergurau, tertawa atau senyum — tapi kita segera tahu bahwa yang kita hadapi ialah hidup yang duka dan ungu. Kayam berkelakar sembari mementaskan tragedi.

Ketika si “aku” dalam There Goes Tatum dirampok orang Negro yang mengancamnya dengan pisau, ia masih sempat melucu: “Di tengah gerimis hujan itu aku dengar ‘klik’ dan bung Negro mencoba-coba ketajaman pisaunya pada janggutnya. Aku sangka cuma Richard Widmark atau Jack Palance yang bisa begitu. Tahu-tahu ada bakat terpendam ketemu di tengah hujan gerimis di Riverside Park”. Meskipun begitu, cerita tersebut bukanlah termasuk yang istimewa.

Dari kumpulan ini yang terbaik di samping Madame Schlitz dan Chief Sitting Bull – adalah Secangkir Kopi, Sepotong Donat, yang belum pernah diterbitkan sebelumnya. Dalam cerita sepanjang halaman ini tiba-tiba jelaslah di mana kepedihan New York tertumpuk: dalam kehidupan rutin di sebuah coffee house, pada jam 10 pagi. Pada hari itu Peggy seperti biasa melayani para pembeli kopi dan donat, bagaikan mesin – dan mendadak kita tahu bahwa tadi malam bapaknya mabuk lagi dan memukuli ibunya. Peggy gagal memenuhi janji pada pacarnya, seorang pemuda yang dalam kesibukan kedai itu duduk diam-diam sambil menuliskan surat-surat di atas serbet kertas, menuntut jawab. Pada hari itu juga hadir Jim, langganan tetap yang tiba-tiba mengumumkan pembebasannya dari standarisasi hidup dan kelaziman di seluruh Amerika: ia tak lagi memesan kopi dan kue donat. Tapi seperti kuwalat yada hidup Amerikanya sendiri selama ini, tiba-tiba terhenyak, sakit. Dan rutin pun kembali, begitu Jim pergi.

Dan setelah Umar Kayam menceritakan moment-moment itu dengan ringan, komik dan seolah-olah tanpa haru, cerita kemudian meninggalkan kita dalam rasa aneh dan sayu. Di sini pun Kayam mencoretkan begitu saja asosiasi-asosiasi yang cepat, dengan perbendaharaan nama dan istilah yang mungkin tak segera ditangkap oleh mereka yang tak terlalu kenal dengan dunia di mana cerita berlangsung. Tapi senantiasa yang tampil ialah seorang penulis yang pandai menyusun cerita secara hemat tapi efektif, seperti garis-garis yang tak sepenuhnya selesai tapi justru bisa menahan kita untuk membacanya, biar kita dalam gerbong kereta yang sesak dan panas sekalipun.

Tidak seperti banyak sastrawan Indoneia yang lain, Umar Kayam (kini 42 tahun) menampilkan diri sebagai pengarang dalam usia yang relatif lambat, setelah ia menjadi sarjana penuh dan sementara ia masih jadi pejabat tinggi Pemerintah. Tapi meskipun cerita Seribu kunang-kunang di Manhattan itu sendiri kini terasa hambar semenjak 4 tahun yang lalu terbit dan mendapt hadiah Horison keseluruhan kumpulan ini memang mendukung reputasi Kayam yang kini umum diakui. Sementara itu cerita-cerita pendeknya yang ditulisnya di dalam negeri yang dilakukan Kayam bukan dalam bahasa dan struktur prosa Indonesia (seperti yang sering disangka), melainkan terutama dalam sikapnya sebagai pencerita: bahwa kesusasteraan bisa meninggalkan pretensi “kebesaran” sementara ia sekaligus bisa serius — tanpa bertampang gawat, angker, susah-payah, mentereng atau pun “sok-absurd”.

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1973/05/19/BK/mbm.19730519.BK62084.id.html

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on February 25, 2012, in Sastra, Umar Kayam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: