Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaannya

Judul : Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaannya
Penulis : Lucas Sasongko Triyoga
Penerbit : Grasindo, Jakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : xxiv + 232 halaman
Harga : Rp. 47.000,-

Letusan Gunung Merapi tahun ini merupakan letusan terbesar sepanjang sejarah Merapi yang tercatat. Mengamati dinamika perkembangan meletusnya Gunung Merapi selalu diiringi dengan persepsi dan sistem kepercayaan masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi. Ketika kita bicara Merapi tentu tak lepas pada pembicaraan kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitar Merapi.

Demikian yang tersirat dari buku Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaannya hasil tulisan Lucas Sasongko Triyoga. Meski ditulis berdasarkan penelitian lebih dua puluh tahun silam, buku ini masih relevan dengan situasi terkini. Pembaca dibawa pada sebuah pemahaman bersama betapa sesungguhnya ada spirit, ada dorongan, yang membuat masyarakat masih percaya dan betah tinggal di sekitar Gunung Merapi.

Buku ini membahas beberapa tema yang terkait dengan merapi dan masyarakat Jawa. Pada bagian “Tiga Desa di Lereng Gunung Merapi”, membahas sejarah tiga desa di lereng Merapi, yaitu Desa Kawastu, Desa Korijaya, dan Desa Wukirsari. Sulit dipastikan kapan desa-desa tersebut didirikan karena hingga kini belum ada penulisan sejarah, kecuali informasi lisan yang beredar di kalangan penduduk setempat mengenai tokoh cikal bakal berdirinya desa mereka.

Sejarah didirikannya desa-desa tersebut kebanyakan dihubungkan dengan berbagai pergolakan politik kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, atau para pelarian politik masa lalu yang bersembunyi, atau priyayi pendatang yang bersemedi kemudian membuka hutan dan menetap di lereng Gunung Merapi hingga ajalnya. Sedangkan pada bagian “Kepercayaan Terhadap Gunung Merapi”, dibahas mulai dari mitologi asal-usul dan persepsi cikal bakal yang dikaitkan dengan ketiga desa tersebut.

Kemudian, pembahasan tentang penduduk di lereng Gunung Merapi memunyai kepercayaan bahwa selain manusia, dunia alam semesta juga dihuni makhluk lain yang mereka sebut dengan bangsa atau makhluk halus. Layaknya kehidupan manusia, dalam dunia makhluk halus terdapat organisasi tersendiri yang mengatur hierarki pemerintahan dengan segala aktivitasnya.

Salah satu hierarki pemerintahan makhluk halus yang erat di penduduk adalah Keraton Makhluk Halus Gunung Merapi yang menurut penduduk dari ketiga desa tersebut. Juga dibahas tempat-tempat angker, binatang-binatang sakral, serta sebabsebab letusan dan cara meramalkannya. Buku ini ditutup dengan sebuah prolog yang membahas semua fenomena yang hidup di sekitar Merapi hingga saat ini.

Tentang ketiga desa yang dibahas buku ini dihantam badai pyroclastic alias wedhus gembel, yang memakan korban jiwa penduduk setempat, termasuk meninggalnya Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Buku ini menakjubkan karena merupakan buku pertama yang menganalisis gunung berapi di Indonesia dari segi manusia bukan dari segi ekologi fisik.

Dalam buku ini terdapat beberapa topik penting, dan paling nyata adalah bahaya gunung berapi di Jawa dan tanggapan manusia terhadapnya.

Peresensi adalah Akhmad Sekhu, pengamat buku, tinggal di Jakarta

Sumber: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=69869

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 20, 2011, in Budaya, Lucas Sasongko Triyoga and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: