Soe Hok-Gie …Sekali Lagi

Judul : Soe Hok-Gie …Sekali Lagi
Pengarang : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan
ISBN : 9789799102195
KPG : 82904090313
Ukuran : 220 x 175 cm
Halaman : 552 halaman
Harga : Rp 60,000

Soe Hok-Gie … sekali lagi, diharapkan menjadi buku baru sekali lagi tentang Soe Hok-gie, berisikan kisah saksi hidup pendakian di zaman awal Orde Baru. Juga saksi-saksi teman dan konco dekat Hok-gie dalam soal “buku pesta dan cinta di kampus UI Rawamangun-Salemba”, tentu juga perihal alam bangsanya yang baru menapak di zaman pembangunan – sebelum menapak ke zaman reformasi.

Buku baru tentang Soe Hok-gie ini, khususnya akan memuat komentar dan telaah penulis dan pengamat “cuaca” sosial budaya politik budaya Indonesia. Rupanya ada kemiripan yang tidak sama tapi nyaris serupa, antara situasi sekarang dan 40-an tahun lalu.

Ini buku tentang perilaku dan pemikiran terhadap keadaan bangsa dan negara. Sebab dari kumpulan tulisan pilihan Hok-gie, rasanya masih cocok sebagai “bumbu bandingan”, perihal politik pemerintahan, di zamannya Hok-gie sebagai penulis muda di usia di tahun 1963-1969, sampai di zaman reformasi 2009n ini.

Rekan seprofesi, mantan anak-anak gerakan Orde Baru pun, masih sempat menulis tentang Hok-gie. Bukan pengamat senior saja, malah beberapa pengamat dan pemerhati yang tidak sempat berkenalan dengan Soe, ikutan menyumbangkan buah pikirannya dalam buku kecil 400-an halaman yang akan terbit khusus, di hari peringatan meninggalnya Soe dan Idhan, 16 Desember 2009 nanti.

Hok-gie bukan hanya tajam menulis kritik terbuka, dia juga mampu menulis puisi alam sehalus kabut Mandalawangi. Juga pilihan puisi dan lirik-lirik lagu, menunjukkan selera kepedulian Hok-gie terhadap seni budaya manusia universal tanpa batasan.

Kesetaraan, kepedulian dan kemajemukan merupakan garis besar dan haluan utama segala tulisan di media massa dengan nama: Soe Hok-gie.

+++++++

Dari sisa ingatan dan catatan minim, mantan enam rekan (Freddy Lasut sudah almarhum) perjalanan Soe Hok-gie (27 tahun) dan Idhan Dhanvantari Lubis (20), berusaha menulis ulang kesaksian sebenarnya tragedi perjalanan pendakian ke Gunung Semeru, nun 40 tahun lalu.

Aristides Katoppo (71): “Hok-gie terlalu cepat pergi, tapi kalau dia hidup dan sekarang sudah umur 67 tahun, apa dia tahan tidak bikin ribut-ribut?” Komentar Tides yang 40 tahun lalu, meminta bantuan helikopter TNI-AL untuk turun di alun-alun kota Malang, lalu ikut heli itu mengapung dan terkurung kabut tebal di kaki Semeru.

Maman Abdurachman (65): “Saya mungkin shock dan dehidrasi, hingga menganggu kondisi dan stres. Tapi saya tidak kesurupan, saya sadar kok, cuma merasa badan panas sekali,” ujar Maman yang tidak trauma dan tidak melarang putrinya menjadi pendaki gunung Mapala UI juga.

Herman Onesimus Lantang (69): “Saya yang memimpin evakuasi jenasah Hok-Gie dan Idhan, tentu dengan dukungan tim besar dari Malang dan Jakarta, bukan sendirian,” ujar Herman yang ketimpa sial juga. “Masih lelah dan baru masuk ke kota Malang, gua diinterogasi polisi, diperiksa dan diminta kesaksian tentang Hok-Gie dan Idhan itu bukan korban pembunuhan di Semeru.”

Anton Wijana alias Wiwiek (63): “Aku satu-satunya anggota tim yang fasih berbahasa Jawa, makanya aku diajak turun duluan bareng Tides, untuk minta bantuan ke Malang dan Jakarta. Yang terjadi kemudian, ya kerja sama kemanusiaan sejati,” kata Wiwiek yang mengenang solidaritas zaman dirinya aktif di pergerakan anak-anak jaket kuning UI.

Rudy Badil (64): “Saya datang, saya lihat, saya rasakan, saya pulang, saya bertanggung jawab dan saya menulis kembali kesaksian peristiwa 40 tahun lalu itu,” ujarnya, seraya menjelaskan sulitnya merekonstruksi ingatan masa 40 tahun lalu. “Salah-salah dikit, harap maklum.”

—oOo—

RESENSI: Setelah 40 Tahun Hok-gie…
Sumber: JawaPos,7 Maret 2010
Peresensi: M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.

APA yang masih mungkin dihikmahkan dari sebuah buku tentang Soe Hok-gie selang 40 tahun setelah kematiannya? Pada posisi kita yang memang sudah sedemikian meneladani Hok-gie sebagai sosok yang idealis, humanis, dan moralis; tentulah tidak cukup memeriksa buku ini sebagai ikhtiar untuk semata mengingat nama Hok-gie.

Tidak cukup bila diniatkan sebagai resepsi mengekalkan memori belaka. Lebih dari itu, kehendak macam apa sejatinya yang kini mendorong kita untuk menampilkan figur Hok-gie sekali lagi? Ya, tidakkah buku Catatan Seorang Demonstran (1983) tersiar masyhur buat meneladani Hok-gie sebagai ”intelektual muda yang berani, lantang, dan sekaligus romantis”?

Nah, lewat penerbitan buku yang penggarapannya dikerubut sejumlah kawan dekat dan pengagum Hok-gie ini memang tebersit suatu kehendak membikin sekaligus menegaskan sekian definisi atas Hok-gie. Setidaknya setelah sejarawan Australia John Maxwell melalui disertasi Soe Hok-gie: A Biography of Young Indonesian Intellectual (1997) mendefinisikan Hok-gie sebagai intelektual. Satu karakter yang begitu kuat dan mengakar dengan didukung pemeriksaan atas pemikiran akademik dan artikel-artikel Hok-gie. Ada skripsi sarjana muda Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920 (1964), ada skripsi Simpang Kiri dari Sebuah Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun September 1948 (1969), termasuk kumpulan artikel Hok-gie yang tersusun dalam buku Zaman Peralihan (1995).

Satu lagi, buku Catatan Seorang Demonstran terbitan LP3ES -kali pertama dipublikasikan Yayasan Mandalawangi dengan judul Catatan Seorang Pemuda Indonesia (1972)- yang tampak menonjolkan kesan progresif Hok-gie yang aktivis. Maka, kalau mau berceletuk sebentar, kira-kira seperti apa ungkapan Hok-gie melihat energi masyarakat dan mahasiswa yang belakangan hari kerap diwarnai aksi protes? Sebagaimana dituliskan Rudy Badil (hlm. 266), mungkin sekali beginilah pernyataan pesan Hok-gie yang tertuju kepada pemangku kekuasaan, ”Jangan memancing perasaan anak-anak muda itu. Mereka anak-anak zaman sekarang yang pemarah. Mereka itu angkatan the angry young men, bukan crossboys lagi, bukan hippies juga.”

***Hok-gie -dalam konteks pembahasan aktivisme gerakan mahasiswa- memang merupakan ”tipe langka” di tengah periode kontestasi politik ideologi masa itu, persisnya pada senjakala pemerintahan Soekarno dan awal menyingsingnya kekuasaan rezim Orde Baru. Tipe langka, demikian Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2006:84) mencermati aktivisme Hok-gie. Tipe langka dari eksponen gerakan mahasiswa ”Angkatan ’66” -yang sepanjang kurun sejarah pascaproklamasi sohor diidentikkan sebagai tonggak pertama ”gerakan mahasiswa sebagai gerakan (moral) politik”.

Tipikal Hok-gie itu merujuk pada rekam jejaknya yang tak menjadi bagian organisasi politik dan partai ideologis apa pun, bahkan sampai batas akhir hidupnya. Padahal, menurut Rum, masa itu ”mahasiswa Jakarta pada umumnya jauh lebih lebur sebagai bagian atau bahkan perpanjangan tangan dari kelompok-kelompok politik ideologis yang ada dalam struktur Nasakom”. Yang perlu dicatat di sini, aktivitas gerakan di era kontestasi politik ideologi tak mungkin dilepaskan dari aspek pergaulan dan kesesuaian pemikirannya. Untuk kasus Hok-gie, dia dekat dengan aktivis Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) dan sempat menaruh simpati ke PSI (Partai Sosialis Indonesia).

Meski demikian, Hok-gie yang nonpartisan tak larut tercemari. Contoh soal, ketika awal 1969, KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mulai ditinggal ranjang organisasi-organisasi mahasiswa. Sejak itu, KAMI pun secara de facto telah bubar. Padahal, dua tahun sebelumnya (1967), Hok-gie sudah mengkritik virus pengaruh partai politik di tubuh KAMI yang tersuntikkan di bawah selubung ideologi. Maka, Hok-gie menyerukan supaya ”bagaimana mengurangi dan akhirnya menghapuskan pengaruh-pengaruh partai politik dalam tubuh organisasi-organisasi mahasiswa”. Wajar sajalah, bagaimana mungkin sikap moral organisasi mahasiswa mampu konsekuen. Sebab kalau konsekuen, ”semang” bakal menyerang ”induk”-nya.

Yang tak kalah krusial untuk disimak agar jadi bahan teladan pada masa gawat kini ialah pandangan Hok-gie terhadap sistem demokrasi terpimpin. Secara normatif, Hok-gie tidak menyenangi pemimpin yang justru menjadikan sistem demokrasi sebagai instrumen untuk menindas partai politik lain. Tidak juga terhadap sistem demokrasi yang direkayasa untuk memperluas ranjang kekuasaan dan otoritas politik segelintir elite. Tak ayal, Hok-gie pun lebih bersimpati kepada Sutan Sjahrir karena figurnya tulus dan jujur sehingga jarang ditemukan dalam diri pemimpin politik lain kala itu. Tidakkah ludesnya rasa tulus dan sikap jujur pemimpin begitu mencemaskan kehidupan negara-bangsa kita sekarang?

Buku yang digadang-gadang untuk menampilkan (sekali lagi) kesosokan Hok-gie ini paling cocok dicerna sebagaimana tuturan Jakob Oetama -yang mengenal Hok-gie antara 1965-1969 bersamaan dengan seringnya Hok-gie memasukkan artikel ke kantor Kompas. ”Di tengah krisis rasa keadilan, hilangnya rasa malu, dan gencarnya semangat menggugat hukum saat ini, sosok Soe Hok-gie pantas ditampilkan,” tulisnya (hlm. xiv).

Pantas dengan cara bagaimana? Jakob menganjurkan dengan jernih akal, ”Dilakukan tidak dengan maksud mengultusindividukan, …melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, utamanya integritas dan kebersihan hati.” Pembaca, kita ditantang untuk itu.

*) M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S., aktivis pers mahasiswa, kuliah di Jogjakarta

Soe Hok-gie Menuju “Yang Tanda Tanya”
* Moh Samsul Arifin, Anggota Klub Buku dan Film SCTV
Sumber: Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010

…Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya/
tanpa kita bisa mengerti/ tanpa kita bisa menawar/ terimalah dan hadapilah//

Pergulatan hidup Soe Hok-gie, yang mati muda dalam usia 27 tahun kurang sehari, terangkum dalam satu bait puisi ”Mandalawangi-Pangrango” di atas. Hok-gie adalah pendobrak, tetapi ia terus-menerus bertemu sepi kala harus mempertahankan idealismenya. Bersama mahasiswa lainnya, ia merobohkan rezim Orde Lama sehingga Orde Baru pun bersemi. Moh Samsul Arifin

Pada sejumlah kasus, Hok- gie memang hitam-putih, terlebih jika berurusan dengan nasib rakyat kecil. Kepedulian itu sudah tertanam sejak kecil. Maka, kepada kawan-kawan bekas aktivis mahasiswa yang melenggang ke parlemen menjadi wakil rakyat, Hok-gie pernah mengirimkan paket lipstik dan bedak agar mereka tampak ”cantik” di mata pemerintah. Ini adalah bentuk kekecewaan pada mereka yang dianggap telah melupakan perjuangan membela rakyat.

Risiko sendiri dan kesepian pun bukan tak disadari Hok-gie. Suatu waktu, saat hendak menuju Amerika Serikat (AS), Oktober 1968, ia berpikir akan menjadi turis dan melihat-lihat AS yang kaya dan besar. Namun, kala meninggalkan Honolulu menuju Sydney, ia kembali sedih. Menurut Hok-gie, ia tak dapat melepaskan diri dari persoalan Indonesia karena telah berada dalam lubuk hatinya. Hanya kata- kata Daniel Lev (seorang Indonesianis) yang bikin hatinya tenang. ”Soe, kau adalah pemikir. Orang- orang seperti itu selalu menanyakan tentang nilai-nilai dalam masyarakat. Mereka tidak pernah akan berbahagia dan tak akan pernah puas. Terimalah kenyataan ini” (hlm 451).

Mendaki gunung

Dengan hati yang terus bergemuruh karena tak pernah mendapati kondisi ideal di alam bangsa, negara, dan masyarakat, Hok- gie mereguk ketenangan dengan mendaki gunung-gunung tinggi di Jawa. Puncak-puncak gunung itu menjadi tempatnya merenung, melepaskan diri dari dunia yang mengimpit pikiran dan jiwa. Di ketinggian, Hok-gie berziarah pada keheningan, kesyahduan, dan akhirnya ia pun turun ke daratan untuk kembali menghadapinya. Seperti bait puisinya yang tercetus di Lembah Mandalawangi: menghadapi yang tanda tanya.

Hok-gie dengan sangat gamblang memaparkan mengapa ia dan kawan-kawannya di Mapala UI naik gunung. Sekitar Agustus 1967, Hok-gie dan kawan-kawannya bertekad menaklukkan Gunung Slamet di Jawa Tengah. Lantaran kurang biaya, mereka minta sumbangan dari sana-sini. Kepada para penyumbangnya, Hok-gie memaklumatkan ini: ”Kami adalah manusia-manusia yang tak percaya pada slogan. Patriotisme tak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyat dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar dan di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi” (hlm 432).

Buat saya, wajar belaka jika Hok-gie dan tujuh kawannya mendaki Semeru, gunung tertinggi di Jawa, pertengahan Desember 40 tahun lalu. Saat itu, kepada Herman O Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo, Maman Abdurrachman, Wiwiek Anton Wijana, Idhan Lubis, dan Freddy Lasut, Hok-gie berkelakar akan merayakan ulang tahunnya ke-27 di puncak Gunung Semeru pada 17 Desember 1969. Namun apa daya, ”yang tanda tanya” (baca: takdir) berkata lain. Gie dan Idhan kecelakaan. Keduanya mengembuskan napas terakhir seusai mendaratkan kaki di puncak Semeru.

Nah, detail cerita ihwal pendakian di Semeru itulah yang menjadi menu utama buku ini. Namun, membuat cerita lengkap tentang peristiwa yang berlalu 40 tahun silam bukanlah pekerjaan mudah. Sudah pasti, sungguh sulit merawat sebuah ingatan yang seusia dengan satu generasi itu. Sebagai dimaklum, bersama dengan waktu, manusia digerogoti usia. Pekerjaan mengumpulkan ingatan sejatinya merupakan proyek melawan tua tersebut. Inilah yang dilawan Rudy Badil dan kawan-kawannya yang ikut bersama Hok-gie mendaki Gunung Semeru.

”Lika-liku kisah kejadian yang sudah lewat sekian belas ribu hari sungguh sulit direkam dan direka-reka. Kebetulan pula, rekan Freddy Lasut (anggota tim pendakian) tahun 1999 sudah meninggal pada usia 49 tahun. Tinggallah kami, yang rata-rata berusia 60 tahun lebih itu harus memeras otak di kepala yang sudah banyak ubannya. Tides yang menjadi narasumber kunci sungguh kesulitan sewaktu berdiskusi dan mengingat-ingat kisah lama itu. Herman Lantang (ketua tim) yang umurnya hampir merangkak naik ke angka 70 juga tidak ingat tepat kejadian hari ke hari setelah Gie dan Idhan meninggal,” tulis Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan, yang menjadi editor buku ini (hlm xxxi).

Dari sisa ingatan itulah, Rudy Badil dan kawan-kawan menceritakan kejadian hingga Gie dan Idhan tewas, 16 Desember 1969. Kala di puncak, mereka disergap cuaca buruk yang penuh hujan dan gerimis bercampur kabut. Suara ledakan dan letusan ditambah semburan gas dan material vulkanik. Tak pelak, tarikan dan buangan napas pun bertambah berat. ”Udara terasa kosong, menyulitkan paru-paru menyedot hawa segar. Mulut kering, kerongkongan rasanya lekat,” ungkap Badil (hlm 25).

Setelah 40 tahun

Secara umum, Rudy Badil dan kawan-kawan berhasil menghadirkan kembali peristiwa itu di hadapan pembaca buku ini, tepat 40 tahun sejak kematian Hok-gie. Pembaca akan menangkap suasana dan drama mencekam episode pendakian ke puncak Semeru dan proses evakuasi dari gunung dengan ketinggian 3.676 meter itu. Pun, proses pengiriman jenazah Hok-gie dan Idhan dari Semeru-Malang-Yogyakarta-Jakarta dengan menggunakan pesawat milik AURI (sekarang TNI AU). Acungan jempol bagi penerbit yang mempertahankan gaya bertutur ala Rudy Badil dan kawan-kawan sehingga pembaca bisa kembali ke suasana masa tahun 1960-an.

Yang kurang, barangkali, penyebab kematian Hok-gie dan Idhan. Dilukiskan bahwa keduanya kecelakaan. Herman Lantang sempat berujar, Hok-gie dan Idhan mengalami kejang-kejang dan akhirnya nyawa dua pendaki itu tak bisa ia tolong. Seandainya ingatan Herman masih kuat, cerita lengkap bagaimana Hok-gie dan Idhan (keponakan almarhum sastrawan Mochtar Lubis) mengembuskan napas terakhir tentu akan lebih dramatis.

Selain peristiwa Semeru, ada kejutan dari Nurmala Kartini Pandjaitan (Kartini Sjahrir). Ia setidaknya mengejutkan saya dua kali dalam ”Surat Terbuka Ker buat Gie” yang berjumlah sepuluh pucuk. Pertama, ia menyingkap satu nama yang ditulis Hok-gie dalam ”Catatan Seorang Demonstran” (LP3ES, 1983), bahwa Sunarti sesungguhnya adalah dirinya atau yang karib dipanggil Ker. Kedua, ia dengan sangat terbuka mengungkap bahwa dirinya menyukai Hok-gie— seorang pemuda yang disemati sejumlah atribut oleh para pengagumnya: idealis, humanis, sekaligus moralis.

Andai Hok-gie masih ada, apa kira-kira sikapnya atas skandal Bank Century? Barangkali, ia akan berteriak lantang, ”Siapa salah harus mempertanggungjawabkannya. Tak ada kompromi di depan hukum dan sejarah. Hanya orang-orang bersih yang akan membawa negeri ini bebas dari korupsi!” Dari Hok-gie, kita semua belajar tentang satu hal yang lamat-lamat ditinggalkan: integritaslah yang membedakan manusia satu dengan yang lain.

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 20, 2011, in Biografi, Rudy Badil and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: