Three Cups of Tea

Judul: Three Cups of Tea
Pengarang : Greg Mortenson dan David Liver Relin
List Price : Rp 89.000
Penerbit : Hikmah
Edisi : Soft Cover
ISBN : 9791141851
ISBN-13 : 9789791141857
Tgl Penerbitan : 2008
Bahasa : Indonesia
Halaman : 666

“Mencekam dan memesona, dengan penggambaran memikat baik tentang kekerasan maupun persahabatan yang terdengar mustahil. Buku ini akan menawan hati banyak pembaca.”
-Publishers Weekly

“Menggetarkan…bukti bahwa seorang biasa, dengan kombinasi karakter dan kemauan yang tepat, bisa benar-benar mengubah dunia.”
-Tom Brokaw, mantan penyiar NBC

“Misi Mortenson begitu menakjubkan, pendiriannya tak tergoyahkan, wilayah yang digarapnya begitu eksotis dan perhitungan waktunya pun tepat.”
-The Washington Post

“… mengandung amat banyak hal tentang kesalahan Amerika di Afghanistan.”
-The New York Review of Books

“Pembaca yang tertarik pada sudut pandang baru tentang kebudayaan serta usaha pembangunan di Asia Tengah akan menyukai cerita luar biasa tentang perintis kemanusiaan ini.”
-Booklist

Inilah kisah menakjubkan dan inspiratif tentang Indiana Jones sejati dan perjuangan kemanusiaannya yang mengharukan di “pekarangan belakang” rezim Taliban.

Seorang pendaki gunung, Greg Mortenson, dibawa nasib ke pegunungan Karakoram yang gersang di Pakistan setelah gagal mendaki puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia. Tersentuh oleh keramahan penduduknya, dia berjanji untuk kembali dan membangun sebuah sekolah.

Three Cups of Tea berisi mengenai kisah pemenuhan janji tersebut, beserta hasilnya yang mencengangkan. Ya, selama satu dekade berikutnya, Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di lingkar terluar daerah terlarang rezim Taliban. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.

Pada 1993, seorang perawat Amerika, Greg Mortenson, berhasrat menaklukan puncak gunung tertinggi sedunia, K2, di Himalaya. Bukan hanya gagal melaksanakan niatnya, Mortenson juga tersesat, mengalami keletihan kronis, bahkan kehilangan 15 kg bobot tubuhnya. Setelah berjalan kaki tertatih-tatih turun gunung selama tujuh hari, Mortenson yang menuju Askole, malah tiba di Korphe, desa yang bahkan tak pernah dilihatnya di peta Karakoram. Di sanalah, di gubuk Haji Ali, Mortenson dijamu dengan ramah, dirawat dengan penuh perhatian, dan dilayani bak tamu istimewa.

Di lingkungan nan miskin inilah jalan hidup Mortenson, juga jalan hidup anak-anak di Pakistan Utara, berubah. Ketika memikirkan cara membalas budi baik mereka, jantung Mortenson serasa tercerabut dan napasnya tercekat saat melihat bagaimana anak-anak di sana bersekolah: mereka duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara nan dingin, dengan tertib mengerjakan tugas. Mortenson meletakkan tangannya di pundak Haji Ali dan berkata, “Aku akan membangun sebuah sekolah untuk kalian. Aku berjanji.” Inilah kisah mengenai pemenuhan janji tersebut. Ya, selama satu dekade berikutnya, Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di daerah tempat lahirnya Taliban. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.

RESENSI:
Merebut Hati Himalaya
oleh: Mardiyah Chamim

TIGA cangkir teh di Himalaya. Cangkir pertama adalah sambutan untuk tamu asing. Cangkir kedua menandakan si tamu sudah dianggap teman. Nah, pada cangkir ketiga, “Kau bergabung dengan keluarga kami dan karena itu keluarga kami siap berbuat apa pun, bahkan mati, demi dirimu.”

Makna tiga cangkir teh itu disampaikan Haji Ali Korphe, kepala desa di Gunung Korakoram, kepada Greg Mortenson, 51 tahun. Lelaki asal Montana, Amerika Serikat, ini telah bertahun-tahun mondar-mandir di labirin Pegunungan Himalaya.

Sahib Greg, begitu dia dipanggil, mulanya adalah pendaki gunung. Pada 1993 dia mendaki K2, puncak tertinggi di Karakoram, Himalaya. Sial, dia tersesat. Tubuhnya nyaris membeku. Kematian berjarak seujung kuku.

Setelah berhari-hari dihajar beku salju Karakoram, Mortenson diselamatkan orang gunung. Dia dirawat di rumah Haji Ali Korphe. Cangkir demi cangkir teh dihidangkan. Mortenson telah menjadi bagian dari jantung Korakoram.

Jatuh hati pada ketulusan warga, Mortenson berjanji akan membangun sebuah gedung sekolah untuk desa ini. Janji yang sungguh tidak mudah. Desa-desa di pucuk gunung itu tak mudah diraih. Alam yang keras membentengi mereka dari dunia luar.

Mortenson muda, ketika itu 37 tahun, kembali ke Amerika. Dia terkaget-kaget mendapati kenyataan bahwa menggalang dana sama sekali tidak gampang. Ada 580 surat permintaan dana dilayangkan, tapi hanya ada satu surat balasan dengan lampiran cek US$ 100.

Jean Hornie, seorang jutawan yang sedang sekarat, kebetulan mendengar kisah Mortenson dan memberinya US$ 20 ribu. “Ini tak seberapa dibanding uang yang bisa dihabiskan mantan istriku dalam sehari,” kata Hoerni. “Bangunkan aku sebuah sekolah di Himalaya.”

Menembus alam yang ganas, diakali orang-orang culas, dikenai fatwa haram oleh ulama kolot, bahkan disekap tentara Taliban adalah menu yang harus dihadapi. David Oliver Relin, penulis yang mendampingi Mortenson, menyajikan drama nyata di Pegunungan Himalaya ini dengan narasi menarik. Maka buku ini terhitung sebagai buku terlaris versi New York Times selama 74 pekan, sejak diterbitkan akhir 2007. Bulan lalu, Three Cups of Tea sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Hikmah.

Kesulitan tak membuat Mortenson patah arang. Gedung sekolah berhasil dia bangun. Tak hanya satu, tapi ada 55 gedung sekolah di sepanjang perbatasan Pakistan dan Afganistan. Sebuah pencapaian luar biasa.

Pencapaian yang didapat dengan melibatkan masyarakat. Penduduk wajib berunding jika ingin desanya dibangunkan gedung sekolah. Mereka harus menyediakan tanah dan tenaga untuk proses membangun. Walhasil, ketika ada pasukan Taliban mengganggu ketenteraman sekolah, penduduk desa berada di barisan paling depan. “Akan kami bela sampai mati,” kata Haji Ali Korphe.

Lebih dari sekadar membangun gedung, Mortenson adalah contoh tentang bagaimana merangkul sesama manusia dengan tulus. Kerja humanitarian yang tidak membuat orang menadahkan tangan, tapi menempatkan orang yang ditolong dalam posisi bermartabat.

Di pedalaman Himalaya, Mortenson menyaksikan betapa kelompok radikal rajin merekrut remaja belasan tahun. Hanya dengan imbalan US$ 300, anak-anak itu menyerahkan hidup mereka kepada Taliban. Ibu-ibu yang berpendidikan, menurut Mortenson, lebih kuat melindungi anak mereka dari godaan untuk bergabung dengan kaum militan. “Itu sebabnya, mendidik perempuan sangat penting,” katanya.

Kerja keras Mortenson membuktikan bahwa pendidikan adalah cara jitu menekan fundametalisme, bukan bom dan bukan rudal. Seperti tonik, dia memberi darah baru bagi masyarakat yang miskin dan terabaikan. Pendidikan sanggup membuka cakrawala di tempat sedingin dan setinggi Himalaya.

Melalui buku 368 halaman ini, Mortenson meyakinkan dunia bahwa pendidikan jauh lebih efektif dan murah ketimbang jurus militeristik ala pemerintah George Bush. Satu misil Tomahawk, misalnya, berharga minimal US$ 500 ribu. Uang sebanyak itu bisa untuk membangun selusin sekolah di Himalaya. Letnan Kolonel Christopher Kolenda, perwira Amerika yang bertugas di Afganistan, memuji kerja Mortenson. “Saya yakin, solusi jangka panjang di Afganistan adalah pendidikan,” katanya.

Sebuah solusi yang, tentu saja, berlaku tak hanya untuk Afganistan, tapi juga untuk negeri ini.

Mardiyah Chamim

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/11/10/BK/mbm.20081110.BK128671.id.html

 

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 20, 2011, in Biografi, Greg Mortenson. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: