From Beirut to Jerusalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan

Judul buku : From Beirut to Jerusalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan
di Kamp Pengungsian Palestina
Penulis : dr. Ang Swee Chai
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Agustus, 2010
Tebal buku : 444 halaman
Harga : 59.000,-

Sinopsis:
Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel. Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa orang Palestina adalah manusia. Kebodohan dan prasangka telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina. Buku ini adalah kesaksianku.

Mulanya, karena latar belakang religinya, dr. Ang Swee Chai adalah pendukung Israel. Di matanya, orang Palestina adalah teroris. Namun, pada 1982, Israel menyerang Beirut dengan brutal. Keyakinannya pun mulai goyah.

Ia putuskan untuk membuktikan sendiri dengan menjadi sukarelawan medis di Beirut. Di sana, di kamp pengungsian Palestina, setelah menjadi saksi Pembantaian Sabra-Shatila, akhirnya ia temukan jawaban. Ia berbalik memihak rakyat Palestina, memihak keadilan dan kemanusiaan. Di tanah asing, ia pertaruhkan nyawanya untuk membela orang-orang yang tak punya hubungan darah maupun etnis dengan dirinya, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai dokter, sebagai manusia.

“Saya menangis ketika membaca buku ini untuk pertama kalinya. Ilmu kedokteran dan keterampilan sastra menjadikan kesaksian ini begitu mengiris.” —Farid Gaban, Pena Indonesia

“Buku yang membuat orang AS marah karena kesaksiannya yang berani. Tidak lama kemudian, penerbitan buku ini dihentikan peredarannya di AS.” —Media Indonesia

“Pembaca akan merasakan kepedihan dan pergolakan yang dialamai dr. Ang Swee. Membaca buku ini berarti merasakan dari dekat pembantaian manusia.” —Koran Tempo

“Buku yang ditulis secara detail dan menerobos relung jiwa.” —Gatra

“Catatan yang amat personal tentang kehidupan di kamp pengungsian.” —The Times

“Penggambaran dr. Ang dalam buku ini membuat peristiwa-peristiwa tersebut terasa seoalah-olah baru terjadi kemarin.” —The Independent

“Sebuah kesaksian tentang pembantaian manusia yang menukik hingga inti permasalahannya.” —The Guardian

Dr. Ang Swee Chai lahir di Malaysia dan dibesarkan di Singapura. Sejak 1977, bersama suaminya tinggal di Inggris. Kini, ia bekerja di St. Bartholomew’s Hospital dan the Royal London Hospital sebagai orthopaedic consultant.

Setelah terjadinya Pembantaian Sabra-Shatila, bersama beberapa rekannya, dr. Ang membentuk Medical Aid for Palestinians (MAP). Pada 1987, Pemimpin PLO, Yasser Arafat, menganugerahi dr. Ang Star of Palestine, penghargaan tertinggi bagi pengabdian kepada rakyat Palestina. Hingga kini, melalui MAP dr. Ang terus aktif membantu bangsa Palestina

RESENSI:
From Beirut to Jerusalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan
N. Mursidi
Sumber:  Koran Jakarta, Selasa 24 Agustus 2010
PALESTINA tak henti-henti dirundung duka. Serangkaian pembantaian yang dilakukan
tentara Israel terhadap warga Palestina tak cuma meninggalkan duka lara,
melainkan juga mengundang keprihatinan. Karena tak sedikit wanita dan anak-anak
menjadi korban –meninggal, terluka, dan mengalami trauma berkepanjangan.
Kepedihan rakyat Palestina itulah, yang “mengundang” orang-orang yang memiliki
empati dan hati nurani kemudian tergerak hati datang ke Palestina untuk menjadi
relawan dan dr. Ang Swee Chai adalah salah satunya.

Tetapi, dr Ang Swee Chai tidak hanya datang sebagai seorang dokter yang
memberikan sumbangsih pengabdian (merawat dan berkorban dengan segala cara),
melainkan juga berani memberikan kesaksian tentang apa yang dia lihat atas
kebengisan Israel. Padahal, latar belakang religius Ang sebenarnya memihak
Israel tapi tuntutan profesi dokter bedah membuatnya tak bisa berpaling.
Awalnya, ketika datang permintaan pengiriman dokter bedah ke Beirut, ia segera
memutuskan berangkat. Ia keluar dari RS London, meninggalkan suami (Francis),
lalu memutuskan mengabdikan hidup di kamp pengungsian Palestina. Anehnya,
setelah di kamp itu ia justru sadar. Ia balik memihak Palestina dan kemudian
memberi kesaksian.

Buku ini adalah kesaksian dr. Ang, dokter perempuan yang telah merawat para
korban perang dan melihat dari dekat kekejaman Israel di negeri Lebanon. Bulan
Agustus 1982 dr. Ang meninggalkan London berangkat bersama 100 tenaga medis dari
berbagai negara yang disponsori PRCS (Palestina Red Crescent Society). Setiba di
Beirut, ia “tersentak” menjumpai kehancuran: 20.000 keluarga kehilangan rumah,
rumah sakit rusak dan ia terpaksa merawat korban di rumah sakit darurat (Lahut).
Hari pertama tugas, dr. Ang harus merawat 50 pasien bahkan menjalani operasi
tanpa penerangan.

Beberapa hari kemudian, ia bertugas di rumah sakit Gaza. Anehnya, justru di kamp
pengungsian Palestina (di Sabra dan Sathila) itu, dr. Ang disadarkan dengan
keadaan yang bertolak belakang dengan apa yang ia peroleh dari media Barat
tentang orang Pelestina. Sebelum berangkat ke Beirut ia memihak Israel. Tapi
keadaan yang ditemui di kamp pengungsian membuatnya harus memihak keadilan.
“Melihat orang yang terluka di Lebanon membuatku pedih. Pertama, karena mereka
telah disakiti Israel. Kedua, aku orang Kristen dan ketiga, karena aku seorang
dokter” (hal. 35).

Dari situ, ia memutuskan memihak Palestina. Ia berjuang demi rakyat Palestina
yang terbuang (dari tanah air mereka) sejak tahun 1948. Karena itu, nurani dr
Ang tak ingin pembantaian itu berlanjut. Dengan lantang ia (Paul Morris dan
Ellen) lalu memberi “kesaksian” untuk membela Palestina di Komisi Kahen, di Tel
Aviv sebelum dia pulang ke London November 1982.

Meski kesaksian itu tak membuat Palestina terbebas dari kekejaman, tapi jiwanya
untuk memihak Palestina tidak surut. Setelah pulang ke London (1984), ia
mendirikan organisasi amal medis MAP -Medical Aid for Palestina/bantuan Medis
untuk Rakyat Palestina. Di bawah panji MAP, dr. Ang menyumbang obat-obatan. Pada
1985 kamp pengungsi Palestina (Bourj el-Brajneh) diserang dan dikepung
(orang-orang Amal, kelompok Muslim Lebanon), ia berangkat ke Lebanon. Kepergian
kali ini tak hanya bertugas sebagai dokter, tapi juga negosiator dan sopir yang
mengangkut bantuan obat untuk rakyat Palestina.

Enam kali dr Ang ke Lebanon saat perang berkecamuk, berjuang untuk Palestina. Ia
mendapat penghargaan Star of Palestina (1987) dari Yasser Arafat. The Gardian
Inggris menjuluki Malaikat dengan Sayap Terbelenggu atas usaha pembebasan
Pelestina itu. Sebagai pengungsi –yang lahir di Penang Malaysia- yang kini
tinggal di Inggris, Ang merasakan nasib orang Palestina yang tidak punya negara.
Karena itu upaya pembebasan dan kesaksian yang diberikan itu tak sekadar
dukungan, juga harapan. Dari situ, dr. Ang memberi “titel” buku ini; From Beirut
to Jerusalem.

Buku ini -seperti ditulis The Guardian- adalah kesaksian tentang pembantaian
yang menukik. ***

*) N. Mursidi, blogger buku dan owner toko buku online etalasebuku.com

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 22, 2011, in Ang Swee Chai, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. tertarik bgt ne mas sm bukunya,,tp blm ketemu bukunya..:-(…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: