Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu…

Judul: Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu…
Penerbit      :  Diva Press
Pengarang  :  Wiwid Prasetyo

SINOPSIS:

“Mereka boleh makan nasi dan kami hanya makan jagung dan ketela, tetapi isi kepala yang keluar bisa saja berbeda. Kecerdasan tidak melulu ditentukan oleh apa yang mereka makan, tetapi dari kemauan keras dan usaha untuk mencapainya.”
* * *
Wenas adalah cermin bocah miskin negeri ini. Walau untuk makan pun kesulitan, cita-cita Wenas untuk bersekolah tak pernah pupus!
Wenas sangat mengerti bahwa hidup adalah perjuangan. Perubahan tidak akan terjadi bila ia berpangku tangan. Bersama kawan-kawan sebayanya, ia berusaha mencari uang dengan berjualan koran. Tapi, uang dari berjualan koran itu tidak serta-merta membuat keadaannya menjadi lebih baik. Wenas dan teman-temannya terlibat konflik yang membuat mereka terpecah-belah.
Apa yang terjadi kemudian pada diri Wenas, ibunya, dan teman-temannya yang sama-sama miskin? Apakah Wenas berhasil bersekolah atau justru menjadi salah satu dari sekian anak negeri ini yang tak bisa mengenyam bangku pendidikan?
Ketika semua kita percaya bahwa pendidikan merupakan cara memutus mata rantai kemiskinan, justru tak semua anak bisa mendapatkannya. Di luar sana, anak-anak kecil menantang panas matahari dengan senyum mengembang, berharap bisa mengumpulkan uang untuk bersekolah.
Bacalah novel bertama pendidikan yang sangat menggetarkan nurani ini. Kisah ini membutkikan bahwa bahwa ternyata sekolah masih saja menjadi impian yang sulit digapai oleh sebagian anak-anak negeri ini.
Tragis, dramatis, memilukan!

Resensi:
Bersekolah dengan Air Mata
Oleh Wildani Hefni

Sekilas melihat judul buku ini, refleks mesti kita ingat pepatah “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa”. Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya bodoh. Sungguh besar keinginan orang tua untuk membebaskan anaknya dari kungkungan kebodohan. Tentu jalan itu tak lain melalui pendidikan. Pendidikan adalah pendongkrak pemanusiaan manusia untuk selanjutnya diejawantahkan dalam ruang nyata. Naluri hewani juga akan terkikis oleh pendidikan.
Namun, apa jadinya, jika ribuan dan bahkan jutaan generasi muda yang memiliki kecerdasan luar biasa, memiliki prestasi yang menggunung dan motivasi serta etika yang membanggakan, tak mampu mengenyam pendidikan? Generasi muda yang kreatif, inovatif dan bahkan visioner yang siap menjadi pionir di bidangnya masing-masing, tidak memperoleh pendidikan yang benar-benar mampu memberdayakan? Bisa dipastikan mereka tak mampu untuk merealisasikan harapan dan mimpi-mimpinya.
Banyak faktor yang menyebabkan anak muda tak bisa mengenyam pendidikan. Bisa saja anak kaum mampu namun tak ada keinginan, ada juga anak kaum mampu namun lebih senang terjun dalam dunia bisnis. Sementara novel ini hadir menceritakan seorang Wenas, bocah miskin yang hidup dengan segala penderitaan.
Dalam kesehariannya, dia selalu menjerit kelaparan, merasakan kesakitan, perutnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Kelaparan sudah menjadi teman hidupnya. Dia hidup bersama seorang ibu yang juga tak memunyai pekerjaan. Ladang sawahnya gagal panen. Tidak ada ayah, yang ada hanyalah Raga, sosok berpendidikan yang selalu memberikan semangat pada Wenas. Kemauan keras dan usaha untuk dapat mengenyam pendidikan, selalu menggema di hati Wenas.
Siapa sangka, dengan usaha yang kuat dari Wenas dan ibu semata wayangnya, ia mampu tersenyum untuk bisa sekolah. Kain sisa berwarna merah dan putih yang tidak terpakai, dijahit untuk dipakai seragam sekolah.
Kisah pilu Wenas ternyata tak berhenti, walaupun ia bisa meraih cita-cita tinggi untuk sekolah, ia kembali merasakan sebagai seorang siswa yang sedang mengais ilmu di sekolah hantu. Sebuah lembaga yang tentu menjadi momok bagi murid seperti Wenas karena biaya yang sangat tinggi.
Sekolah Semesta yang begitu angkuh dan hidup dari kebohongan, dibangun di atas puing-puing keserakahan, semangat kapitalisme untuk mengeruk banyak uang tanpa memperhatikan unsur pendidikan.
Melihat kenyataan itu, Wenas hanya bisa meneteskan air mata. Sekolah yang ia tempati membawa masalah pelik, menambah beban pikirannya. Bagi saya, novel ini mendatangkan pertanyaan, mengapa tak dibedakan antara si kaya dan si miskin? Mengapa tidak ada kompromi untuk orangorang miskin yang ingin mendapatkan pendidikan? Di mana letak keadilan kalau seperti ini?

Dimuat di Koran Jakarta, Jum’at, 17 Maret 2011

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 30, 2011, in Novel, Wiwid Prasetyo and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: