Snow – Di Balik Keheningan Salju

Judul Snow – Di Balik Keheningan Salju
No. ISBN 9789790240155
Penulis Orhan Pamuk
Penerbit Serambi
Tanggal terbit Maret – 2008
Jumlah Halaman 731
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) 130x205mm
Kategori Politik-Hukum

SINOPSIS:
Salju mulai turun ketika seorang wartawan dan penyair bernama Ka tiba di Kars, sebuah kota kecil di perbatasan Turki.

Diawali keinginannya untuk menyelidiki kasus bunuh diri yang semakin mewabah di kalangan wanita muda kota itu, juga hasrat untuk menemukan cinta masa lalunya, tanpa sadar Ka terseret di dalam gejolak kemelut Kars. Konflik antargerakan Islam, pertikaian antara agama dan sekularisme, serta aparat penguasa yang bertindak sewenang-wenang hanyalah segelintir persoalan di tengah gunung es masalah di kota yang terisolasi selama berkecamuknya badai salju yang ganas itu.

***

Snow adalah sebuah kisah tentang kesulitan yang dihadapi oleh sebuah bangsa yang terbelah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Di tangan Pamuk, seluruh permasalahan itu tersaji menjadi sebuah kisah thriller politik yang mencekam dan meninggalkan kesan mendalam.

***

“Sebuah novel yang secara tepat menggambarkan keadaan masa kini.”
— The Times

“Mendalam dan sangat cemerlang … Memberikan pencerahan tentang pertentangan antara dunia Islam radikal dan sekuler secara jauh lebih baik daripada buku nonfiksi mana pun ….”
— New Statesman

“Pamuk menyajikan begitu banyak warna dalam novel ini sehingga kita tak akan mampu memisahkan masalah pokok keagamaan dengan problematika kehidupan Turki modern, percikan-percikan dalam hubungan Timur-Barat, dan hakikat kesenian.”
— Spectator

“Snow layak dimasukkan dalam daftar novel-novel terbaik sepanjang masa.”
— TEMPO

RESENSI:
Benturan Peradaban dalam Salju Kehidupan

oleh: Oleh: Muhammadun AS*
Sumber: http://oase.kompas.com/read/2009/10/08/1431508/benturan.peradaban.dalam.salju.kehidupan

Setiap peradaban selalu melahirkan gejolak yang penuh makna. Gejolak peradaban bisa melahirkan kemajuan yang fantastis dan mempesona. Bisa juga melahirkan konflik dan benturan yang mengorbankan jutaan nyawa manusia sebagai figuran. Konflik lintas peradaban dalam gerak politik global telah membenturkan Barat dan Timur dalam seberang pembantaian dan pembunuhan yang terus digelar. Bahkan atas dasar doktrin agama, konflik seolah diritualkan menjadi ritus agama yang dilegalkan. Tragisnya, para agamawan kadang kala menjadi aktor utama dibalik ragam tragedi yang terus meruyak di muka bumi. Dengan jubahnya yang besar, agamawan menjadikan kitab suci sebagai “kitab konflik” yang terus diproduksi setiap waktu.

Seorang novelis peraih nobel sastra tahun 2006, Orhan Pamuk, gusar dengan fakta benturan Barat-Timur yang terus bergejolak. Pamuk yang berkebangsaan Turki menggugat gejolak konflik tersebut dengan karya-karya briliannya. Novel Snow ini seolah melanjutkan gagasan dalam novelnya yang bertajuk My Name is Red, yang menjadi karya Pamuk dalam merebut nobel sastra tahun 2006. Pamuk mencoba mendamaikan dua “kutub” pemikiran yang selama ini berseberangan, dan mencoba membangun dialog terbuka yang toleran. Karya pamuk yang diterbitkan di berbagai negara dan seringkali memenangkan penghargaan karya fiksi internasional diharapkan Pamuk mampu menjadi bacaan berharga masyarakat dunia dalam membangun peradaban yang dialogis.

Kalau dalam My Name is Red Pamuk mengurai sebuah petualangan yang rumit, Snow hadir dengan petualangan yang gampang dan renyah. Novel ini berkisah seorang wartawan dan penyair bernama Ka di Kars, sebuah kota kecil diperbatasan Turki. Diawali keinginannnya untuk menyelidiki kasus bunuh diri yang semakin mewabah di kalangan wanita muda kota itu, juga hasrat untuk menemukan cinta masa lalunya, tanpa sadar Ka terseret dalam di dalam gejolak kemelut Kars. Konflik antar gerakan Islam, pertikaian antara agama dan sekularisme, serta aparat penguasa yang bertindak sewenang-wenang hanyalah segelintir gunung es masalah di kota yang terisolasi selama berkecamuknya badai salju yang ganas itu.

Petualangan Ka dalam Snow diramu dengan begitu asyik dalam keheningan salju. Salju menjelma sebuah petualangan yang menyisakan jejak-jejak hidup Ka setiap menghadapi berbagai problem kehidupan. Dalam salju itulah, jalan hidup Ka bisa ditelusur secara kronikal, berbekas, dan penuh hamburan konflik yang penuh bias. Salju konflik memang selalu hadir dalam dalam setiap gerak yang dilakoni Ka, tetapi Ka selalu bisa menempatkan dirinya dalam sebuah keheningan, kejernihan, dan kepala dingin, persis seperti salju yang dingin. Ya, dalam diri Ka, salju menjadi kehidupan. “Tempat menjadi ujung dunia,” demikian ujar Ka melukiskan makna salju (hal. 639). Kehidupan yang melompatkan gerak emosi dan pikiran dalam penjelajahan benturan peradaban yang diramu secara menyentuh oleh Pamuk.

Salju kehidupan menjelajah kisah kesulitan yang dihadapi oleh sebuah bangsa yang terbelah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Di tangan Pamuk, seluruh permaslahan itu tersaji tersaji menjadi sebuah kisah thriller politik yang mencekam dan meninggalkan kesan mendalam. Dalam saat yang mencekam, Pamuk mengisahkan tragedi bunuh diri yang dilakukan warga Kars yang dililit konflik batin keagamaan. Warga Kars dicekam sebuah aksioma yang membentur-benturkan sajian konflik batin, karena dihadapkan berbagai problem hidup yang penuh bias. Di saat yang sama, warga Kars juga harus menghadapi kondisi kemiskinan yang terus merenggut nasib warga tak berada (the have not).

Pergulatan agama dan hembusan modernisasi juga terjadi dalam kisah ihwal jilbab. Ka menemui warga Kars yang bersepsi berbeda-beda dalam memahami syariah jilbab. Mereka yang masih memahami ajaran agama secara doktrinal, jilbab menjadi identitas agama “haram” dilepas. Jilbab menjadi penutup “aurat agama” yang bila dilepas dikenakan dosa versi agama. Sementara mereka yang sudah terkena hembusan modernisasi, jilbab bukan lagi dimaknai secara “aurat agama”, tetapi sebagai simbol budaya. Karena sebuah simbol budaya, maka pemakaian jilbab tidaklah berhubungan dengan teks agama. Berjilbab, dengan demikian, adalah ritual budaya yang pasti berubah setiap saat, sesuai dengan perubahan kondisi kebudayaan jaman.

Benturan tradisi, agama, dan modernisasi menjadi isu utama Pamuk yang terlukis dalam perjalanan (journey) Ka. Kota Kars yang disajikan Pamuk sebagai kota multitradisi dan multiperadaban menjadikan sebuah simpul penanda bahwa Pamuk mencoba mengurai Turki sebagai tempat bertemunya Timur-Barat yang terus bertemu selama ini. Pamuk mencoba sebuah menjadikan Turki sebagai basis reseach novelnya dalam menjelajah dialog lintas peradaban. Sosok Ka yang dilukiskan sebagai tokoh utama dalam novel Snow seolah mencerminkan diri Pamuk sendiri yang sedang bergulat dalam benturan gejolak tang tak kunjung usai.

Walaupun cerminan Ka dalam diri Pamuk tidaklah dengan gaya berterus-sapa. Tetapi penanda-penanda yang yang disajikan, walaupun rumit, menggemblangkan pembaca ihwal jalan hidup Pamuk dalam direkam dalam jejak Ka di Kars. Terlebih Ka yang berprofesi sebagai wartawan dan penyair, yang suka menyelami ragam bentuk kehidupan, dan selalu merasa resah setiap kali fakta meruyak dalam dirinya. Pamuk hadir dengan sebuah jawaban yang warna. Semua fakta dileburkan dalam berkesenian, sehingga menjadi kekayaan seni yang berharga. Sampai dia juga terus mendapatkan penghargaan yang prestise dan mempesona.

Dalam telusur itulah, tak salah kalau Margaret Atwood menilai karya Pamuk sebagai bacaan penting bagi jaman kita. Pamuk dinilai sebagai suara tersegar dan terorisinil dalam dunia fiksi kontemporer. Pamuk datang untuk menyapa. Bukan melanggengkan permusuhan. Karena hakekat kemanusiaan saling menghargai, bukan membenci. Saling menyayangi, bukan memaki. Snow hadir diracik untuk saling menghargai dan menyayangi dengan hening, sehening kepingan Salju.

*Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta.

Suspens di Balik Kepingan Salju
oleh: Bernando J. Sujibto
Ruang Baca Koran Tempo Edisi 25 Mei 2008

Peraih Hadiah Nobel Sastra 2006, Ferit Orhan Pamuk, kembali meramu gagasan besar tentang peradaban Barat dan Timur yang berakar di Turki dengan karakter yang khas dalam novel Snow, di Balik Keheningan Salju. Ia merajut pertemuan Timur (Islam) dan Barat (Kristen) yang telah menciptakan kekeruhan di Turki, khususnya di awal abad ke-20, ketika Dinasti Ottoman mengalami kehancuran dan sekaligus menjadi titik tolak munculnya Turki modern di bawah kawalan Musthafa Kemal Attaturk.

Komposisi Snow terasa ringan dan segar, namun tetap penuh intrik dengan lilitan elemen thriller yang sengaja diciptakan “penuh pertanyaan”, yang bermuara ke persoalan serius tentang aliran, falsafah hidup, ideologi negara, peradaban, dan agama. Hal-hal ini mengingatkan kita kepada novel yang jauh lebih fantastik, yaitu My Name is Red, yang telah memikat audiens internasional.

Dalam Snow ada kristal salju yang merekam semua peristiwa yang dituturkan Pamuk. Uniknya, di tangan Pamuk, salju bukan sekadar salju. Salju menjadi bernuansa lain. Ia seperti ruh yang ikut mengalir di balik konflik tajam dan ketika nuansa romantis sekalipun.

Seperti halnya dalam My Name is Red, dalam Snow Pamuk mencoba mendialogkan peradaban Barat dan Timur dengan segala kompleksitas persoalannya, yang acap menjadi pemicu konflik global hingga kini, demi menggapai sinergi. Gagasan ini, menurut kritikus Margaret Atwood, menjadikan Pamuk sebagai penulis spesialis peradaban Barat-Timur yang sangat penting di abad ini. Pamuk mampu mengolah persoalan Turki dengan karakter kuat melalui jamuan thriller, cinta yang hampa, harapan yang semu, dan kegamangan posisi pemerintah dengan spirit peradaban universal dan humanisme yang kuat.

Pamuk begitu risih terhadap sebutan identitas yang menciptakan diskriminasi, seperti “aku orang Azeri”, “aku orang Kurdi”, dan “aku orang Terekemi” (hlm. 46). Ia mencoba konsep berkesenian yang melebur semesta, dengan merentangkan jembatan dialog dan transformasi pemahaman. Ia ingin sekali melebur sekat-sekat dikotomis-eketrem itu. Alasannya, ”hatiku yang bimbang mendamba Barat ketika aku berada di Timur dan mendamba Timur ketika aku di Barat… aku ingin menjadi Timur sekaligus Barat” (My Name is Red, 2006; hlm. 620).

Secara ide, My Name is Red dan Snow seperti sebuah sekuel yang saling bertalian dan menyambungkan benang-benang kusut yang sengaja disulam terputus di novel terdahulu dan dirajut secara lebih terang melalui novel yang belakangan. Konteks latar pun sama: Turki yang mengalami tekanan perubahan di tengah arus modernisasi antara Asia dan Eropa, yang memaksa negara itu menerimanya meski pada gilirannya harus mengalami keterpecahan antara Ankara dan Istanbul. Pamuk kreatif menyajikan apa yang dimilikinya. Meskipun diangkat dengan latar dan simbol Turki, gagasan peradaban yang ia ramu bisa menjadi cermin bagi dunia global, khususnya bagi dunia Islam abad ini.

Di sini salju menjadi simbol eksotisme, dan yang utama mengiringi jalinan peristiwa demi peristiwa. Si bintang baru yang terbit dari timur, demikian pujian The New York Times, memulai kisahnya dari seorang pria bernama Kerim Alakusoglu (nama inisialnya Ka), jurnalis sekaligus penyair. Pada awalnya Ka datang dari Frankfrut di kota kelahirannya, Kars, untuk meliput suksesi pemilihan wali kota dan sekaligus menyelediki tragedi bunuh diri yang semakin marak dilakukan oleh gadis-gadis Kars. Setelah dua belas tahun sebagai eksil di Jerman, Ka menjumpai Kars jauh berubah dari masa lalunya: kumuh, miskin, pengangguran tinggi, depresi karena banyak kekerasan (hlm. 25).

Ditemani Serdar Bey, seorang pengelola harian di kota itu, Ka menggali informasi lebih lanjut tentang situasi politik dan kasus bunuh diri para gadis. Seperti kasus bunuh diri yang terjadi pada Telime, gadis siswi madrasah aliyah (sekolah Islam setara SMU). Kasus ini menyita perhatian Ka karena gadis itu berjilbab dan taat agama. Ternyata, pada suatu kala setelah berwudlu dan melakukan salat, Telime membentangkan jilbabnya ke atap dan gantung diri.

Kehadiran Ka di tengah gejolak Kars menjadi lebih runyam, khususnya setelah ia –dengan mata telanjang –melihat penembakan oleh seorang yang belum jelas identitasnya terhadap Direktur Pendidikan kota itu. Penembakan terjadi di sebuah bar bernama Toko Kue Hidup Baru, ketika Ka bersama dengan Ipek, pacarnya di masa lalu yang kini menjadi janda dari Muhtar, calon wali kota Kars. Aksi penembakan merebak ke tengah kota. Posisi Ka dan Ipek pun menjadi kunci bagi penyidikan pihak militer. Di saat inilah Ka harus terlibat dengan simpang siurnya kabar dan kekacauan demi kekacauan. Di tengah kerunyaman itu pula benih cintanya kepada Ipek tumbuh perlahan, dan bahkan Ka bulat ingin mempersunting dan memboyong Ipek untuk hidup bersama di Frankfrut.

Dengan berjalannya penyidikan, aksi pembunuhan pun terkuak. Direktur Pendidikan yang naas itu dibunuh oleh militan Islam yang gencar menolak kebijakan pelarangan memakai jilbab di madrasah aliyah. Pada waktu itu, terjadi keputusan di parlemen, yang mayoritas dikuasai kalangan sekuler, bahwa di sekolah dilarang memakai simbol agama, termasuk jilbab. Semua orang tua pun resah oleh keputusan ekstrem dari negara. Tak ada cara selain menyuruh anak gadis mereka mecopot jilbab demi memperoleh pendidikan. Bersamaan dengan itu pula kasus bunuh diri semakin signifikan dari kalangan anak-anak gadis.

Kasus pembunuhan itu bagai bola salju yang menggelinding kencang dan menjadi pemantik pembunuhan berikutnya yang melibatkan banyak orang, dari berbagai aliran dan paham. Di tengah situasi itu, semua elemen dimanfaatkan demi mencari menang antara militan Islam dan pihak skuler. Yang paling tragis, kegiatan kesenian seperti kelompok Teater Nasional pimpinan Sunny pun ikut menjadi tunggangan politik dan perang dingin kepentingan. Ironisnya, pemeran teater yang menjadi tunggangan pihak sekuler adalah Kadife, adik Ipek yang dikenal taat beragama. Dalam satu perannya, ia mencopot jilbab kemudian membakarnya di depan tatapan ribuan pasang mata di gedung Teater Nasional. Keberanian Kadife ternyata hanya karena cintanya kepada Lazuardi, yang berada dalam sekapan para penculik –keberanian yang tetap saja tak menolong Lazuardi, yang akhirnya terbunuh.

Pembunuhan tak selesai di situ. Kisah kian mencekam ketika intaian maut sampai ke tubuh Ka, setelah dia pulang dan beberapa bulan tinggal di Frankfrut bersama Ipek. Pembunuhnya dibiarkan menggantung oleh Pamuk. Tak ada yang yakin siapa yang melakukan semua itu. Siapa sebenarnya yang membunuh Direktur Pendidikan? Benarkah Ka berkhianat kepada Ipek dan Lazuardi? Siapa yang membunuh Ka?

Salju pelan-pelan lebur bersama air mata Pamuk, sebagai pencerita ulung yang tiba-tiba menyusup seolah menjadi tokoh. Pamuk seperti masuk ke tokoh Ka, kadang juga menyusup ke diri tokoh yang lain. Semua itu dilakukan dengan sangat cantik dan cerdik. Semua peristiwa berdarah dalam novel ini mengkristal, menjadi Salju, sebuah puisi gubahan Ka yang berisi catatan penting petualangannya di Kars.

Bernando J. Sujibto
, pekerja buku tinggal di Yogyakarta

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 30, 2011, in Orhan Parmuk, Sastra. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: