The History The Qur’anic Text – Sejarah Teks Al Quran dari Wahyu sampai Kompilasi

The History The Qur’anic Text – Sejarah Teks Al Quran dari Wahyu sampai Kompilasi

Judul: The History The Qur’anic Text – Sejarah Teks Al Quran dari Wahyu sampai Kompilasi
No. ISBN 9795619375
Penulis: Prof. Dr. M.M. Al-A’zami
Penerbit: Gema Insani
Tanggal terbit: 2005
Jenis Cover: Hard Cover
Kategori: Islam

SINOPSIS:

Buku ini menyajikan ide pemikiran secara lugas tentang kitab suci Al Quran serta sistem preservasinya dan sekaligus membedah trik negatif dan sasaran tembak pihak orientalis. Asal usul penerimaan wahyu peranan Nabi Muhammad SAW dalam sosialisasi ajarannya koleksi ayat-ayat serta setting naskah akhir seluruhnya dikupas secara jeli oleh penulisnya. Topik bahasan melingkupi antara lain asal usul naskah bahasa Arab sebutan Mushaf Ibn Mas’ud metodologi ketat yang dikemas dalam pengolahan data dan semua jenis fragmentasi naskah.

Melalui system komparasi penulis mendemonstrasikan intelektualnya dalam menguak sejarah Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bersandarkan pada sumber orisinal dalam membuktikan berbagai alternasi yang terjadi pada Kitab Injil. Menurutnya penelitian pihak Barat terhadap kitab suci umat Islam dilandasi semata-mata oleh rasa sok tahu bukan mengacu pada data ilmiah tentang integritas kitab tersebut.

“Buku ini diharapkan dapat beredar dan ditelaah secara mendalam di kalangan umat Islam. Bagi yang terlibat khususnya di bidang dakwah dialog agama dan pendidikan. Penelitian dalam buku ini juga dapat dijadikan menu utama dan bahkan dapat dianggap sebagai sesuatu yang amat significant di masa sekarang” – Murrad Wilfried Hofmann The Muslim World Book Review –

“Apabila Imam Syafi’I pada masa klasik dijuluki Nashir as-Sunnah (Pembela Sunnah) oleh warga kota suci Mekkah Karena beliau berhasil mematahkan argumentasi para pengingkar sunnah. Pada masa kini guru kami Prof. Dr. M.M. Azami dijuluki sebagai Pembela Eksistensi Hadits karena beliau berhasil meruntuhkan argumentasi kelompok orientalis yang menolak hadits berasal dari Nabi Muhammad SAW. Dengan terbitnya buku ini Prof. Dr. M.M. Azami melengkapi jati dirinya sebagai ahli Al Quran dan ahli Al Hadits” – Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub M.A. Guru Besar Institute Ilmu Al Quran Jakarta –

Ditulis oleh Prof. Dr. M.M. Azami lulusan Universitas Al Azhar Kairo (MM 1955) dan Universitas Cambridge (Ph.D 1966). Guru Besar Emeritus pada Universitas King Sa’ud Riyad dan penerima hadiah internasional Raja Faisal untuk Studi Keislaman pada tahun 1980.

Selamat Datang, Profesor Azami!
Oleh : Adnin Armas
Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur
Sumber: http://www.republika.co.id

Pada 30 Maret 2005 ada sebuah peristiwa penting dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia karena kedatangan seorang ulama dan cendekiawan kaliber internasional, Prof Dr Muhammad Mustafa Azami, guru besar Studi Islam di Universitas Raja Saud, Riyadh. Ia datang untuk meluncurkan bukunya The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study
with the Old and New Testaments, pada 2 April, di Senayan Jakarta. Buku ini telah diterjemahkan oleh tiga orang doktor dari Universitas Islam Internasional yaitu Dr Sohirin Solihin, Dr Ugi Suharto, Dr Anis Malik Thoha, dan Lili Yuliadi, MA.

Di dalam bukunya yang terbaru ini, Prof Azami membandingkan sejarah Alquran dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam kajiannya yang mendalam tentang sejarah Alquran, Prof Azami menjawab dengan sangat meyakinkan pendapat-pendapat para orientalis. Sedikit berbeda dengan para ulama dari Timur Tengah yang lain, Prof Azami dalam karya tersebut menggunakan bukan saja referensi dalam bahasa Arab dan Inggris, tetapi juga bahasa Prancis dan Jerman.

Prof Azami mengkaji sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan menggunakan pendapat-pendapat dari kalangan sarjana Yahudi dan Kristen. Hasil kajiannya menunjukkan sejarah Perjanjian Lama dan Baru mengandung sejumlah masalah yang sangat mendasar dan mustahil untuk diselesaikan. Ketika para orientalis mengkaji Alquran, mereka sudah mengasumsikan sebelumnya, sejarah Alquran sama saja dengan sejarah ”kitab suci” mereka. Disebabkan kitab suci mereka bermasalah, maka Alquran juga diangggap bermasalah.

Benteng pertahanan
Karya Prof Azami yang bernilai ilmiah tinggi ini sangat bermanfaat untuk dijadikan benteng pertahanan dalam menghadapi tantangan pemikiran para orientalis yang bertubi-tubi mengkritik Alquran. Dengan menggunakan alat biblical criticism sejak abad ke-19,
para orientalis telah membuat berbagai teori baru mengenai sejarah Alquran, seperti yang diformulasikan Theodor Noldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (1919), Edward Sell (1839-1932), Gotthelf Bergstraesser (1886-1933), Leone Caentani (1869-1935),
Otto Pretzl (1893-1941), Hartwig Hirschfeld (1854-1934), Joseph Horovitz (1874-1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881-1937), Arthur Jeffery (1893-1959), Regis Blachere (1900-1973), John Wansbrough (1928-2002), dan yang masih hidup seperti Andrew Rippin, Harald Motzki dan masih banyak lagi lainnya.

Melalui karyanya, Azami menjawab berbagai permasalahan dan terperinci seputar sejarah Alquran. Ia melacak sejarah Alquran dengan menunjukkan berbagai fakta yang sangat meyakinkan. Ia juga membantah berbagai pendapat para orientalis terkemuka dalam studi Alquran. Ia menunjukkan kelemahan pendapat Arthur Jeffery yang menyatakan Alquran tidak memuat Al-Fatihah, Al-Nass dan Al-‘Alaq karena surah-surah tersebut tidak ada dalam mushaf Abdullah ibn Mas’ud.

Ia juga menunjukkan kelemahan pendapat Arthur Jeffery karena berpendapat mushaf Ubayy ibn Ka’b mengandung dua surah ekstra, dari yang selama ini diketahui kaum Muslimin. Ia juga menunjukkan ketidakjujuran Alphonse Minggana, yang pernah menjadi guru besar di Universitas Birmingham, Inggris, ketika mengedit varian bacaan. Dan, ia menunjukkan berbagai kesalahan pemikiran yang dilakukan oleh berbagai orientalis lain seperti Gustav Flugel, Theodor Noldeke dan Gerd R Puin.

Pembahasan mengenai sejarah Alquran muncul menjadi isu dikalangan para orientalis setelah para teolog Kristen dan Yahudi menemukan sejumlah masalah yang sangat mendasar mengenai sejarah Perjanjian Lama dan Baru. Disebabkan berbagai masalah yang meliputi sejarah Perjanjian Lama dan Baru, maka banyak di kalangan para teolog Kristen dan Yahudi sudah tidak mempercayai lagi jika Kedua Perjanjian tersebut berasal dari Tuhan. Terlalu banyak campur tangan manusia yang telah merusak teks asli. Oleh sebab itu, Arthur Jeffery berpendapat agama yang memiliki kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks (textual history).
Sebabnya, tidak ada satupun autografi dari naskah asli dulu yang masih ada.

Dengan menggunakan metode-metode penelitian kritis  modern (biblical criticism), Jeffery ingin mengedit Alquran secara kritis (a critical editon of the Qur’an). Ia menganalisis sejarah teks Alquran dari zaman Rasulullah SAW sampai tercetaknya teks qiraah.
Ia menyimpulkan sebenarnya terdapat berbagai mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf Uthmani.

Pada tahun 1977, John Wansbrough (2002) menerapkan literary/source criticism dan form criticism ke dalam studi Alquran. Wansbrough berpendapat kanonisasi teks Alquran terbentuk pada akhir abad ke-2 Hijrah. Oleh sebab itu, semua hadits yang menyatakan tentang himpunan Alquran harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya secara historis. Semua informasi tersebut adalah fiktif yang punya maksud-maksud tertentu. Semua informasi tersebut mungkin dibuat oleh para fuqaha’ untuk menjelaskan doktrin-doktrin syariah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikut model periwayatan teks orisinal Pantekosta dan kanonisasi Kitab Suci Ibrani.

Semua informasi tersebut mengasumsikan sebelumnya wujudnya standar (canon) dan karena itu, tidak bisa lebih dahulu dari abad ke-3 Hijriah. Menurut Wansbrough, untuk menyimpulkan teks yang diterima dan selama ini diyakini oleh kaum Muslimin sebenarnya
adalah fiksi yang belakangan yang direkayasa oleh kaum Muslimin. Teks Alquran baru menjadi baku setelah tahun 800 M.

Pemikiran para Orientalis juga mempengaruhi beberapa pemikir Muslim kontemporer seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd. Melacak sejarah Alquran, Mohammed Arkoun sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Menurutnya, sarjana Muslim menolak menggunakan metode ilmiah (biblical criticism) karena alasan politis dan
psikologis. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku. Psikologis karena pandangan muktazilah mengenai kemakhlukan Alquran di dalam waktu gagal.

Akibat menolak biblical criticism, maka dalam pandangan Arkoun, studi Alquran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel. Ia berpendapat metodologi John Wansbrough memang sesuai dengan apa yang selama ini memang ingin ia kembangkan. Dalam
pandangan Arkoun, mushaf ‘Uthman tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan ”tak terpikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Untuk mengubah ”tak terpikirkan” (unthinkable) menjadi terpikirkan (thinkable), Arkoun mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal (free thinking).

Seirama dengan Mohammed Arkoun, Nasr Hamid berpendapat teks Alquran terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Oleh sebab itu, Alquran adalah ‘produk budaya’ (muntaj thaqafi). Ia juga menjadi produsen budaya (muntij li al-thaqafah) karena menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. Disebabkan realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka Nasr Hamid juga menganggap Alquran sebagai teks bahasa (nas lughawi).

Realitas, budaya, dan bahasa, merupakan fenomena historis dan mempunyai konteks spesifikasinya sendiri. Oleh sebab itu, Alquran adalah teks historis (a historical text). Historisitas teks, realitas, dan budaya sekaligus bahasa, menunjukkan bahwa Alquran adalah teks manusiawi (nas insani). Dengan berpendapat seperti itu, Nasr Hamid menegaskan bahwa teks-teks agama adalah teks-teks bahasa yang bentuknya sama dengan teks-teks yang lain di dalam budaya.

Sekalipun asal muasalnya dari Tuhan, namun Nasr Hamid, sebagaimana Schleiermacher, berpendapat studi Alquran tidak memerlukan metode yang khusus. Jika metode khusus dibutuhkan, maka hanya sebagian manusia yang memiliki kemampuan saja yang bisa memahaminya. Manusia biasa akan tertutup untuk memahami teks-teks agama.

Nasr Hamid menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan Alquran dengan muatan metafisis Islam. Dalam pandangan Nasr Hamid, metodologi seperti itu tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Dengan menyamakan status Alquran dengan teks-teks yang lain, maka Nasr Hamid menegaskan siapa saja bisa mengkaji Aquran.

Dengan munculnya berbagai macam pemikiran ”baru” mengenai Alquran, dan kini dikembangkan oleh sebagian kalangan Muslim di Indonesia, maka kehadiran Prof Azami memang sangat penting dan tepat momentum. Memang namanya belum sepopuler Dr Yusuf Qaradhawi, meskipun sejumlah bukunya juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kajian Azami dalam bidang
al-Quran dan hadith sangat strategis dan mendalam. *

Rekonstruksi Sejarah Teks Alquran

Oleh :  Mun’im A Sirry
Mahasiswa Fulbright di University of California, Los Angeles (UCLA)
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=193903&kat_id=16

Walaupun penerjemahan buku The History of the Qur’anic Text (2003) karya Profesor Muhammad Mustafa al-Azami ke dalam bahasa Indonesia patut disambut gembira, namun catatan kritis harus segera dikemukakan. Azami begitu dismisif menolak kesarjanaan Barat tentang Alquran, terutama meyangkut penelusuran historis atas teks baku Alquran. Saya kira, sebagaimana kita perlu kritis membaca karya- karya orientalis, kita juga harus kritis membaca karya Azami ini.

Adnin Armas dalam tulisannya Selamat Datang, Profesor Azami! (Republika, 30/3/2005) memuji karya Azami ini seolah telah berhasil mematahkan argumen kaum orientalis dan membongkar niat busuk di balik kajian mereka terhadap Alquran. Saya melihat sebaliknya, Azami tidak masuk ke jantung perdebatan diskursif yang berkembang di Barat, sehingga gagal merespons secara intelektual isu-isu penting dalam studi kaum orientalis tentang Alquran. Ada dua kegagalan cukup menonjol dalam karya Azami ini, yakni responsnya bersifat seporadis dan tidak mendalam, dan gagal menyelami korpus kesarjanaan Barat yang begitu beragam.

Namun demikian, cara Azami merespons kesarjanaan Barat secara intelektual patut diteladani. Berbeda dengan kebanyakan ulama Timur Tengah yang kerap mengutuk Barat tanpa melahirkan karya ilmiah, Azami memperlihatkan konsistensi menjawab intelektualisme Barat secara intelektual pula. Sebelumnya, ia menulis kritik intelektual berjudul On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence (1985)  sebagai respons terhadap karya Joseph Schacht (1902-1969) berjudul Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950); suatu karya penting yang  kini menjadi fondasi studi hadits di kalangan sarjana Barat pasca Ignaz Goldziher (1850-1921). Saya kira, pesan Azami jelas: jika tidak setuju dengan karya-karya Barat, kita seyogianya menulis karya-
karya intelektual yang punya bobot ilmiah serupa.

Alquran dalam studi Barat Azami mengakui luasnya intensitas dan ekstensitas studi Barat tentang Alquran. Namun, belum apa-apa, ia sudah menuduh penelitian sarjana-sarjana Barat didorong oleh a definite motive behind all these ‘discoveries’. Sebelum menyebut
deretan nama-nama sarjana Barat yang punya perhatian terhadap studi Alquran, Azami memulai dengan kalimat ”Upaya-upaya untuk mendistorsi Islam dan kesucian teksnya sebenarnya seusia agama ini sendiri, kendati strategi di balik upaya-upaya tersebut mengalami fluktuasi sesuai tujuan yang hendak dicapai.” (hlm 8).

Prasangka ini begitu kuat mengarahkan studi Azami terhadap karya- karya orientalis. Hasilnya bisa kita tebak, Azami begitu dismisif
menolak temuan-temuan sarjana Barat dan menganggap mereka hendak menghancurkan Islam dengan menebarkan keraguan  terhadap Alquran dan hadits. Menjawab prasangka dengan prasangka yang sama memang persoalan klasik, tetapi sangat disayangkan ternyata ini juga menjangkit cendekiawan sekaliber Azami.

Sikap dismisif Azami terlihat dari kenyataan bahwa dia sama sekali tidak menyebut sarjana-sarjana Barat yang menolak tesis keraguan terhadap otentisitas teks Alquran. Nama-nama yang banyak disebut Azami adalah Geiger, Noldeke, Tisdall, Jeffrey, Rippin, Crone, Calder dan tentu saja dedengkotnya Wansbrough yang disebutnya the most radical approach to ousting the Qur’an from its hollowed status.”

Bagi mereka yang sempat membaca karya-karya Barat tentang studi Alquran, walaupun tidak mendalam, tentu akan merasa aneh jika tidak menyebut Richard Bell, Montgomery Watt, Tashihiko Izutsu, Alford Welch, Daniel Madigan, atau Kenneth Cragg yang banyak menulis karya- karya simpatik tentang Alquran. Sarjana yang disebut terakhir menulis dua karya bagus yang menjadi bacaan favorit saya, The Event of the Qur’an (1971) dan The Mind of the Qur’an (1973).

Di antara sarjana Barat yang banyak diserang Azami adalah Wansbrough. Memang, studi Wansbrough terutama yang tertuang dalam
dua karya utamanya, Qur’anic Studies (1977) dan The Sectarian Milieu (1978), sangat berpengaruh. Poin metodologis mendasar dalam karya Wansbrough adalah untuk mempertanyakan pertanyaan penting yang biasanya tidak disinggung dalam studi Islam: apa buktinya. Bukti apa yang kita miliki yang menunjukkan akurasi historis mengenai kebenaran penjelasan tradisional bahwa Alquran dikompilasi pada waktu tidak lama setelah wafatnya Nabi?

Menurut Wansbrough, sumber-sumber non-Islam yang awal membuktikan bahwa keberadaan Alquran dapat dilacak pada abad kedua Hijrah. Bahkan, sumber-sumber Islam yang awal sendiri, menurut Wansbrough, mengindikasikan bahwa teks Alquran belum ditetapkan secara total hingga awal abad ketiga (1977: 163). Karena itu, ia mengajukan empat postulat historis: (1) tidak terdapat alasan untuk mengasumsikan historisitas sumber-sumber tertulis Islam awal dalam bentuk apa pun, termasuk Alquran, sebelum abad ketiga; (2) konsekwensinya, sumber- sumber tersebut tidak bisa dijadikan basis bagi sejarah asal-usul Islam; (3) sebaliknya, sumber-sumber itu merepresentasikan suatu proyeksi ke belakang ”teks-teks Hijazi” yang sebenarnya berkembang di luar jazirah Arabia, utamanya Irak; (4) kunci untuk memahaminya adalah dengan melihat pengaruh Yahudi terhadap perkembangan formatif
tradisi Muslim.

Namun, tidak berarti tesis ini sepenunya diamini sarjana-sarjana Barat lain. Fred Donner (dari Universitas Chicago) dan William
Graham (dari Universitas Harvard) termasuk mereka yang paling artikulatif menolak tesis bahwa Alquran tidak dikodifikasi sejak
abad pertama. Donner mengajukan argumen tekstual-historis dalam karyanya Narratives of Islamic Origins (1998), sementara Graham menguliti empat postulat historis Wansbrough dalam artikel review-nya di Journal of the American Oriental Society (1980). Dan, Azami melewatkan begitu saja perdebatan intelektual ini.

Integritas teks Alquran
Terdapat kesan umum bahwa perdebatan seputar sejarah teks Alquran sangat tipikal Barat. Banyak kalangan berasumsi, sementara kaum Muslim menerima fakta Alquran sebagaimana kita saksikan sekarang secara taken for granted, sarjana-sarjana Barat mempersoalkan integritas teks Alquran demi memunculkan keraguan terhadap kalam Ilahi tersebut. Asumsi ini sama sekali tidak berdasar. Bila kita telusuri dengan cermat, diskusi tentang integritas teks Alquran bukan monopoli kesarjanaan Barat, tapi sudah terjadi pada periode- periode sangat awal dalam Islam. Di sini kita hendak mendemonstrasikan intensitas dan ekstensitas perdebatan isu-isu krusial tentang teks Alquran. Persoalan utama dalam perdebatan tersebut ialah apakah teks Usmani mencakup seluruh materi yang diwahyukan kepada Nabi, atau apakah ada materi (ayat) yang hilang dari teks Usmani?

Sebenarnya literatur Sunni sendiri memperbincangkan berbagai riwayat yang menyebutkan sejumlah ayat telah hilang sebelum Alquran dihimpun atas inisiatif Abu Bakar. Pakar ilmu Alquran Suyuti dalam Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an meriwayatkan bahwa Umar pernah mencari-cari ayat Alquran yang ia lupa-lupa ingat. Umar menjadi sedih sekali, karena akhirnya ia menemukan orang yang mencatat ayat itu telah meninggal saat Perang Yamamah, dan akibatnya ayat itupun hilang (vol.I: 204). Umar juga ingat ayat-ayat lain yang ia pikir hilang dari Alquran, termasuk satu ayat tentang kewajiban terhadap orang tua dan satu lagi tentang jihad (vol.III: 84). Hal ini dibenarkan oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, dan Ubay bin Ka’ab. Demikian juga dikemukakan Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar.

Banyak keberatan juga ditujukan pada teks Alquran versi Usmani yang dibakukan hingga sekarang. Sejumlah riwayat menyebutkan, banyak  sahabat terkemuka tidak menjumpai dalam teks resmi sejumlah ayat yang mereka sendiri dengar dari Nabi, atau menemukannya dalam bentuk berbeda. Ubay bin Ka’ab, misalnya, membaca surat al-Bayyinah dalam versi berbeda yang ia klaim didengarnya dari Nabi, termasuk dua ayat yang tidak tercatat dalam teks Usmani. Ia berkata, versi orisinal dari surat al-Ahzab lebih panjang; ia juga mengingat ayat rajam hilang dari teks Usmani. Hal ini didukung oleh Zaid bin Tsabit dan Aisyah (yang menyebutkan pada masa hidup Nabi surat tersebut tiga kali lebih panjang). Hudzaifah bin Yaman menemukan sekitar tujuh puluh ayat tidak tercantum dalam teks Usmani, ayat-ayat yang ia sendiri biasa membacanya pada masa hidup Nabi. Ia mengatakan, surat
al-Bara’ah (ke-9) dalam teks Usmani hanya sepertiga atau seperempat dari apa yang ada pada masa Nabi.

Riwayat di atas tidak bersumber dari orientalis, melainkan kitab- kitab ulama terdahulu. Sekali lagi, Azami menghindar untuk
mendiskusikan isu krusial ini. Padahal, ulama-ulama besar, bahkan para sahabat, telah memulai perdebatan ini, sehingga tidak perlu ada yang ”ditabukan”. Apa yang dikeluhkan Umar, dan sabahat terkemuka lainnya setelah peresmian teks standar Usmani, membenarkan kekhawatiran Arkoun bahwa Alquran kini menjadi korpus tertutup resmi (official closed corpus). Sungguh amat disayangkan, kaum Muslim kini masih terus mentahbiskan ketertutupan korpus itu.

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on January 30, 2011, in AGAMA, M.M. Al-A'zami and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: