Pak Beye dan Istananya Tetralogi#1

Judul Pak Beye dan Istananya Tetralogi#1
No. ISBN 9789797095555
Penulis Wisnu Nugroho
Penerbit Kompas
Tanggal terbit Juli – 2010
Jumlah Halaman 256
Jenis Cover Soft Cover
Kategori Memoar

SINOPSIS :

Presiden Republik lndonesia adalah orang paling penting atau nomor satu di negeri ini. Setidaknya, sesuai pelat nomor sedan kepresidenan: RI 1. Oleh Wisnu Nugroho, wartawan Kompas, sisi tidak penting RI 1 yang kini dijabat Susilo Bambang Yudhoyono dipaparkan dengan lugas, mengalir, dan apa adanya di blog kompasiana.

Menulis berita ‘penting’ RI 1 dan menyiarkannya langsung dan serentak hanya membuat berita makin seragam. Sifat ‘penting’ berita lstana membuat gereget ‘menarik’ hilang karena tak terberitakan.

Pak BeYe dan Istananya adalah buku pertama dari ‘Tetralogi Sisi Lain SBY’, Sebagai ‘manusia biasa’, Pak Beye yang punya gereget dicatat secara rinci, dibagikan secara jenaka dan kadang nakal. Karena rinci, cerita jenaka dan nakal seputar lstana tersusun runut jelas, dan bernilai sejarah. Bersiaplah tersenyum-senyum.

Wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, atas pengalamannya selama meliput SBY di/dan istana. Ditulis dengan jenaka, buku ini menghadirkan SBY yang lain dari yang selama ini dikenal orang.

Sisi Lain Pak Beye dan Istana
Oleh: Ali Rif’an
Sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/09/24/01590629/Sisi.Lain.Pak.Beye.dan.Istana

Judul: Pak Beye dan Istananya Penulis: Wisnu Nugroho Penerbit: Kompas, Jakarta Tahun: I, Juli 2010 Tebal: 256 halaman

Di dunia ini, tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti memiliki kelemahan dan kekurangan, termasuk seorang Presiden sekalipun. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Begitu yang termaktup dalam ajaran agama.

Buku Pak Beye dan Istananya karya Wisnu Nugroho ini ingin membedah sisi lain di balik pesona seorang Presiden dan gemerlap Istananya. Seperti kebanyakan orang, Pak Beye juga manusia biasa yang memiliki segudang kekurangan. Seperti yang dituliskan pada bab V tentang “Pernik-Pernik Pak Beye” misalnya. Di sini penulis menyoroti banyak hal, seperti tahi lalat Pak Beye yang hilang, soto ayam kegemaran Pak Beye, sampai kasur empuk Pak Beye yang diusung dari Istana Merdeka ke Istana Negara.

Secara kasat mata, tulisan Inu ini memang terkesan mengungkap hal-hal yang tidak penting tentang Pak Beye dan segala sesuatu yang ada di kompleks Istana Kepresidenan selama satu periode (2004-2009). Tapi, karena ditulis oleh wartawan Istana yang pernah mengenyam pendidikan filsafat dan mengetahui secara detail seluk-beluk dan siku-liku dinamika di Istana, buku ini menjadi amat menarik dan sarat dengan pesan-pesan tersembunyi.

Simaklah kisah pada tajuk “Melihat Pak Beye Gak Pede”. Dalam sambutannya di podium, Pak Beye selalu berpesan kepada para menterinya, bahkan pesan ini mungkin sudah puluhan kali beliau sampaikan baik kepada pejabat berlevel teri mapun kelas kakap. “Mari kita lakukan (lagi) kampanye besar-besaran untuk mengkonsumsi produk dalam negeri”. Ketika sidang usai, pesan tersebut menjadi aneh. Betapa tidak, seorang menteri perempuan diiringi ajudannya dengan gagahnya menenteng tas kulit berwarna putih dengan logo LV (Louis Vuitton). Melihat fakta itu, Pak Beye langsung kehilangan kepedeannya.

Yang tak kalah menariknya, buku ini juga mendedah ihwal “tunggangan” para pejabat lengkap sampai satu bab. Barangkali, di sini, Inu ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa Istana Negara sesekali bisa disulap menjadi tempat pertunjukkan mobil papan atas. Sebab, saat rapat kabinet, halaman Istana Negara kerap menyerupai showroom mobil. Puluhan Toyota Camry hitam, mobil dinas menteri saat itu (sekarang Toyota Crown), berjajar rapi. Tak pelak, Yenny Zannuba Wahid—yang pernah tinggal di Istana Merdeka—mengatakan membaca buku ini bak melihat teatrikal di negeri ini, lengkap dengan aktor-aktor di dalamnya.

Kisah tentang makanan Pak Beye juga tak kalah menarik untuk disimak. Bu Budi, misalnya, sebagai juru masak kepresidenan selalu memilih belanja di pasar tradisional daripada di supermarket. Alasannya, daging, ikan, ayam atau sayur di pasar tradisional lebih segar. Menu yang kerap dimasak Bu Budi untuk Pak Beye, antara lain, gado-gado, pecel, trancam, sayur asam, ikan asin, tahu goreng, tempe goreng, dan empal. Sedangkan camilan yang paling disukai Pak Beye adalah tahu sumedang. Jika masih hangat dan dihidangkan dengan cabai rawit, Pak Beye bisa menghabiskan sepuluh potong tahu. Ihwal Pencitraan Seperti banyak dikatakan pengamat, kepemimpinan Pak Beye saat ini terkesan banyak pencitraan. Benar tidaknya asumsi tersebut pembaca bisa menilai sendiri di Bab IV. Seperti yang kita saksikan ketika Pak Beye diwawancarai doorstop atau konferensi pers dari layar kaca, seolah-olah presiden begitu dekat dengan wartawan dan mau dicegat untuk menjawab pertanyaan wartawan. Padahal, presiden mau memberikan keterangan di halaman Istana bukan karena dicegat wartawan. Ada skenarionya untuk itu semua.

Dalam tradisi Istana, banyak hal yang kerapkali diskenariokan. Ketika ada konferensi pers di Istana atau di kediaman Pak Beye di Cikeas yang disiarkan langsung oleh stasiun televise, misalnya, semua sudah diatur dengan rapih dan sarat dengan polesan pencitraan tingkat tinggi. Seperti pertanyaan yang akan diajukan oleh para wartawan kadang sudah disiapkan dan dititipkan terlebih dahulu kepada sejumlah wartawan kepercayaan. Atau pun posisi-posisi yang tepat ketika hendak wawancara.

Buku ini memberikan tesis berharga bagi pembaca ihwal sisi lain Pak Beye dan sisik-melik Istananya. Karena ternyata, sebuah Istana Kepresidenan tidaklah melulu menghadirkan berita-berita serius seperti laporan tentang rapat kabinet, upacara detik-detik proklamasi, tamu negara, hingga reshuffle kabinet. Namun hal-hal yang tak terduga, jarang diketahui oleh khalayak, serta bernuansa “narsis” juga banyak kita temukan.

Buku Pak Beye dan Istananya ini adalah satu di antara “Tetralogi Sisi Lain SBY” (Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, dan Pak Beye dan Keluarganya) yang tengah terbit. Dari hasil wawancara sederhana saya dengan rekan-rekan muda, ternyata antusias untuk menyambut buku ini sangat tinggi. Bagi mereka, mengetahui hal-hal privasi dan sensitif dari orang nomor satu di negeri ini menjadi perlu. Hukum alam memang selalu berbicara demikian, semakin populis seseorang, semakin menarik untuk disimak perjalanan hidupnya.

Namun, satu barangkali pernyataan teman saya yang cukup getir untuk didengarkan, “Kalau seperti ini, apa bedanya Presiden kita dengan selebriti yang ada di infotainment?” begitu kelakarnya di sela-sela ngobrol gayeng.

*) Peresensi adalah Ketua FLP Ciputat dan Peneliti pada Community of People Against-Corruption (CPA-C) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di Balik Kesempurnaan SBY

Sumber:  http://www.hariansumutpos.com/2010/08/58757/di-balik-kesempurnaan-sby.html

Pak Beye dan Istananya; Penulis: Wisnu Nugroho; Penerbit: Kompas, Jakarta Cetakan: I, Juli, 2010; Tebal: 256 halaman

Tidak  ada manusia yang sempurna. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentu. Namun, sebagai orang nomor satu di republik ini, Pak Beye -begitu penulis buku ini menyebut presiden ke-6 tersebut- selalu berusaha dicitrakan sempurna. Sampai-sampai di panggung kampanye Partai Demokrat pada Pemilu 2009, salah satu lagu wajibnya adalah lagu milik Andra and The Backbone, Sempurna.

Berita-berita tentang Pak Beye dan istana kepresidenan yang muncul di televisi, radio, koran, atau majalah adalah berita-berita yang serius. Mulai laporan tentang rapat kabinet, upacara detik-detik proklamasi, tamu negara, hingga reshuffle kabinet. Semua adalah berita penting yang harus segera disebarluaskan ke publik. Nah, tulisan Wisnu Nugroho di buku ini adalah hal-hal yang tidak penting tentang Pak Beye dan segala sesuatu yang ada di kompleks istana kepresidenan selama satu periode (2004-2009). Sesuatu yang sifatnya tidak mendesak untuk diberitakan dan kurang pas disajikan di media mainstream. Tapi, sebagai wartawan istana yang pernah mengenyam pendidikan filsafat, penulis mampu membuat sesuatu yang tidak penting tersebut menjadi tulisan yang penting untuk disimak. Lebih menarik lagi karena dilengkapi dengan foto sederhana sebagai ilustrasi tulisan.

Tulisan-tulisan yang sebelumnya merupakan posting-an di blog itu menunjukkan bahwa penulis adalah wartawan yang jeli, kritis, ngeluthus, sering iseng, dan sekaligus usil. Dari parkiran istana, misalnya, digambarkan merek-merek mobil para pejabat negara, kerabat istana, atau tamu Pak Beye. Lengkap dengan pelat nomornya. Tidak sembarang orang bisa memarkir mobilnya di halaman istana.

Mobil putra bungsu Pak Beye, Edhie Baskoro Yudhoyono, tak lepas dari catatan Wisnu. Setidaknya dua mobil Ibas -sapaan Edhie Baskoro- terekam kamera Wisnu, yakni Audi bernopol B 24 EB dan Chevrolet bernopol B 2411 EB. Masih ada Mercedes-Benz, BMW, dan merek lain yang juga kerap ditunggangi Ibas. Pada setiap pelat nomor mobil Ibas, dua huruf belakangnya selalu sama, yakni EB. Itu menunjukkan siapa pemilik mobil-mobil tersebut. Selain itu, selalu ada unsur angka 24 yang menunjukkan tanggal kelahiran si empunya (hlm. 39).

Saat rapat kabinet, halaman Istana Negara menyerupai showroom mobil. Puluhan Toyota Camry hitam, mobil dinas menteri saat itu (sekarang Toyota Crown), berjajar rapi. Rupanya, ada satu mobil yang berbeda mereknya. Mobil berpelat nomor RI 13 itu bermerek Lexus (hlm 13). Itu adalah kendaraan Menko Kesra kala itu, Aburizal Bakrie.
Sebelum diumumkan oleh Forbes Asia sebagai orang terkaya di Indonesia, mobil Ical -sapaan Aburizal Bakrie- bernopol RI 14. Namun, sejak jadi orang terkaya di republik ini, nomor pelat mobil Ical menjadi RI 13. Sejak itu, kesialan sering menghampiri Ical.

Saat krisis keuangan global merontokkan nilai saham pada 2008, termasuk saham perusahaan Bakrie, Ical tak lagi terlihat menggunakan Lexus itu ke istana. Dia menggunakan Toyota Camry jatahnya untuk menghadiri acara-acara di istana. Tapi, setelah kondisi pasar saham membaik, lima bulan kemudian, Ical kembali menggunakan Lexus ke istana. Tidak ada yang tahu alasannya kecuali Ical sendiri.

Selain Ical, ada pembantu presiden yang tak menggunakan Toyota Camry jatah menteri. Fahmi Idris, menteri perindustrian saat itu, memilih menggunakan Kijang Innova untuk melekatkan pelat nomor RI 22 (hlm. 29). Fahmi beralasan, 75 persen komponen mobil Kijang adalah buatan dalam negeri. Tapi, selidik punya selidik, tidak digunakannya mobil jatah Camry oleh Fahmi Idris itu ternyata berkaitan dengan ukuran tubuh pejabat yang gemar mengoleksi motor besar tersebut. Camry ternyata kurang familiar untuk ukuran tubuh Fahmi, maka dipilihlah mobil yang memiliki kabin lebih lega.

Tapi ada penunggang Kijang lain yang kurang beruntung. Kalau Fahmi mulus masuk istana karena pelat nomornya khusus, lain lagi dengan Ketua KPK (saat itu) Taufiequrracman Ruki. Mobil Kijang Pak Taufieq kerap dicegat petugas Paspampres dan diperiksa cukup lama di pintu gerbang istana. Lebih lama daripada pemeriksaan yang berlaku pada mobil-mobil mewah yang masuk halaman istana.

Mobil tamu Pak Beye yang pernah parkir di istana tak lepas dari sorotan Wisnu. Suatu hari ada Rolls-Royce warna cokelat muda kinclong terparkir (hlm. 7). Dari angka pelat nomornya, 234, mobil tersebut sangat mungkin milik pengusaha rokok dengan nama belakang ‘’Sampoerna’’. Apa hubungan pengusaha itu dengan Pak Beye? Keduanya saling menutupi.

Tidak hanya Rolls-Royce, mobil mewah lain yang tidak pasaran dan pernah mejeng di istana adalah merek Bentley warna hitam dengan nopol B 65 HT. Mungkin karena takut terpapar sinar matahari langsung, mobil itu diparkir di bawah tenda yang biasa dipakai ibu negara Ani Yudhoyono untuk mendukung program Indonesia Pintar ke seluruh Indonesia. Tulisan di tenda itu: Gemar Membaca Meraih Cita-Cita. Dari dua huruf belakang pelat nomor itu, bisa ditebak nama pemilik mobilnya (hlm. 18).

Menjelang pemilu, ada keajaiban di halaman parkir istana dan sekretariat negara. Setiap malam Jumat puluhan metromini dan mikrolet berjajar rapi. Metromini dan mikrolet itu mendapat keistimewaan karena mengantar anggota Majelis Dzikir SBY Nurussalam yang sepekan sekali rutin pengajian di Masjid Baiturrahman, samping Istana Merdeka.
Cerita soal mobil hanyalah satu bab di antara enam bab di buku ini. Yang tak kalah menarik adalah tulisan-tulisan di Bab V tentang Pernak-pernik Pak Beye (hlm. 175). Bab tersebut dibuka dengan tulisan tentang menu makan siang Pak Beye. Kebetulan, penulis dan beberapa wartawan berkesempatan melongok meja makan presiden. Siang itu di meja makan Pak Beye tersaji soto ayam, lengkap dengan telur rebus, telur dadar, perkedel kentang, dan ayam goreng bumbu. Masih ditambah dengan kerupuk kampung, kerupuk udang, dan rengginang. Di meja itu juga tersaji sambal hijau dan kecap manis. Dua gelas sirup cocopandan ikut mendampingi dua gelas air putih.

Sehari-hari makanan Pak Beye masuk kategori tidak neko-neko. Pemasaknya, Bu Budi, juga memilih belanja di pasar tradisional daripada di supermarket. Alasannya, ikan, ayam, atau daging di pasar tradisional lebih segar. Menu yang kerap dimasak Bu Budi untuk Pak Beye, antara lain, gado-gado, pecel, trancam, sayur asam, ikan asin, tahu goreng, tempe goreng, dan empal. Sedangkan camilan yang paling disukai Pak Beye adalah tahu sumedang. Jika masih hangat dan dihidangkan dengan cabai rawit, Pak Beye bisa menghabiskan sepuluh potong tahu.

Menyambut Tahun Baru 2007, ada yang hilang pada diri Pak Beye, namun banyak yang tidak menyadari karena memang tidak mungkin diumumkan secara resmi. Mulai 2007, tahi lalat di atas alis sebelah kanan Pak Beye sudah tidak ada (hlm. 194). Tanpa tahi lalat itu, penampilan Pak Beye menjadi lebih ‘’sempurna’’. Tak penting memang, tapi menarik diketahui.

Suasana saat Pak Beye dan keluarga boyongan dari Istana Merdeka ke Istana Negara juga diceritakan dengan unik oleh penulis. Meski dua istana itu hanya berjarak sekitar seratus meter, tetap saja heboh. Sebagai gambaran, kasur Pak Beye yang superjumbo sampai harus digotong beramai-ramai.(*)

Tomy C. Gutomo
Wartawan Jawa Pos, pernah bertugas meliput di istana kepresidenan

——-

Istana Terbelah Sikapi Buku Wisnu

Banyak apresiasi yang disampaikan kepada Wisnu Nugroho atas peluncuran buku Pak Beye dan Istananya. Ada yang menyambut gembira, ada juga yang mencibir buku tersebut.

“Sikap dari kalangan Istana terbagi dua. Ada yang oke karena ini negara demokrasi. Namun di sisi lain ada yang melihat buku ini sebagai sesuatu yang dalam tanda petik berbahaya,” ujar Wisnu Nugroho kepada wartawan, Kamis (12/8).

Respons positif, kata Wisnu, datang dari mantan juru bicara bidang luar negeri Presiden, Dinno Pati Djalal. Pria yang kini menjabat sebagai Dubes Indonesia untuk Amerika itu sempat mencari-cari buku Pak Beye dan Istananya. “Karena cetakan pertama sudah habis, lalu saya kirimkan bukunya,” ujarnya.

Para petinggi Partai Demokrat juga tampak antusias dengan buku karya Wisnu ini. Diantaranya adalah Ramdhan Pohan. Bahkan Ramadhan sempat memberikan komentar khusus via BlackBerry Messenger. “Kaya data, kaya cerita, dan tidak memaksakan pesan. Dia akan abadi sebab disampaikan apa adanya dan siapa pun bisa memberikan respons dengan perspektif masing-masing,” begitu isinya.

Lebih lanjut Inu mengatakan, Heru Lelono dan Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro juga sempat memberikan selamat atas peluncuran bukunya. “Tapi banyak juga yang tidak suka karena beberapa hal terungkap dalam buku itu. Tapi memang seperti itu dan sesuai fakta, biar publik menilai sendiri,” tandasnya.(net/jpnn)

—-

Terinspirasi dari Orang yang tak Penting

Inspirasi bisa muncul dari siapa saja. Tak peduli itu tukang kebun, pawang hujan, koki dan sebagainya. Buktinya, penulis buku Pak Beye dan Istananya, Wisnu Nugroho terinspirasi menulis pernak-pernik Istana setalah dirinya berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap tidak penting di Istana Negara.

Dalam testimoninya, penulis yang akrab disapa Inu ini mengaku mendapatkan banyak informasi tentang seluk beluk Istana dari orang-orang yang dianggap tak penting seperti pawang hujan, tukang kebun, sopir menteri, koki presiden dan orang-orang lain yang dianggap tak penting. Dibalik keangkuhan tembok Istana yang tertutup rapat ternyata di dalamnya informasi begitu terbuka.

Wartawan media cetak terbitan Jakarta itu mengaku, proses pencarian dan pengumpulan data dilakukan di sela-sela mengikuti kegiatan Presiden di Istana.

“Wartawan Istana kan banyak waktu luangnya, di sela-sela menunggu rapat kabinet misalnya. Ketimbang ngobrol dan melakukan hal-hal tak jelas lebih baik berinteraksi dengan orang-orang tersebut,” urainya.

Ternyata hasil liputan orang-orang tak penting di Istana mendapat respons luar biasa dari publik. Dalam bukunya, Inu memang menekankan perlunya memberitakan hal-hal tak penting agar sesuatu yang penting tetap penting.
“Di Istana yang penting kan Presiden. Tapi banyak orang-orang tak penting yang menopang eksistensi orang penting itu,” pungkasnya.

Di antara ribuan fakta yang disaksikannya saat meliput di Istana antara kurun waktu 2004-2009, ada beberapa yang menumbuhkan keresahan dalam jiwanya. “Saya hanya ingin berbagi kegelisahan tentang apa yang saya lihat dan saya rasa, untuk menjadi kegelisahan bersama,” ungkapnya.

Dalam seri pertama tetralogi berjudul Pak Beye dan Istananya, Inu banyak mengungkap tentang fasilitas luks yang dimiliki para menteri serta orang-orang dekat Presiden. Mulai dari mobil hingga merk sepatu.

Banyak juga kejadian unik yang tak sempat terekam media mainstraim, lantaran sifatnya yang terlalu kecil untuk diberitakan. Lalu, orang-orang kecil yang sebenarnya memiliki peran penting di Istana.

Di Istana, menurut Inu, unsur menarik dan penting acapkali menjadi kabur. Sehingga menjadi perlu untuk mengabarkan yang tidak penting agar yang penting tetap menjadi penting.(net/jpnn)

—–

Dua Minggu, 7 Ribu Eksemplar Ludes

Sejak beredar di pasaran pada akhir Juli 2010, buku Pak Beye dan Istananya, langsung diserbu pembeli. Cetakan pertama sebanyak 7.000 eksemplar habis dalam waktu kurang dari dua minggu. Merespons besarnya minat masyarakat, Penerbit Buku Kompas atau PBK mencetak-ulang buku karya Anton Wisnu Nugroho ini hingga 37.000 eksemplar.

“Cetakan kedua dan ketiga sebanyak 30.000 eksemplar sudah beredar di toko buku sejak minggu ini. Kalau permintaan tetap tinggi, minggu depan kami berencana mencetak kembali (cetakan keempat) beberapa puluh ribu eksemplar,” kata Patricius Cahanar dari PBK, Kamis (12/8/2010).

Buku Pak Beye dan Istananya merupakan buku pertama dari Tetralogi Sisi Lain SBY yang isinya berasal dari kumpulan tulisan Anton Wisnu Nugroho, salah seorang wartawan harian Kompas di social blog Kompasiana. Oleh Pepih Nugraha, Admin Kompasiana, buku tersebut diolah menjadi empat buku yang diterbitkan secara berkala. Buku kedua tetralogi ini, Pak Beye dan Politiknya, akan diluncurkan setelah Lebaran nanti.

Buku ini termasuk best seller dengan penjualan tercepat di antara buku-buku PBK lainnya. Meskipun baru secara resmi diluncurkan tanggal 4 Agustus kemarin, masyarakat bergegas membelinya di toko buku Gramedia di seluruh daerah. Hal itu terlebih sejak beberapa media televisi mengulas buku ini secara mendalam. “Pihak toko buku banyak yang mengeluh kehabisan stok, padahal baru beberapa hari buku ini beredar,” cerita Patris.

Fenomena buku ini mirip dengan buku terbitan PBK lain berjudul Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando yang diterbitkan PBK awal 2009. Waktu itu, buku ini menuai kontroversi karena dianggap menyerang salah seorang calon presiden dalam Pemilu 2009.

Lewat Tetralogi Sisi Lain SBY, Wisnu membagikan cerita di balik foto-foto hasil jepretannya selama bertugas di Istana Negara sejak tahun 2004 hingga 2009. Meskipun penulisnya menganggap tulisan ini tidak penting, cerita ringan dan foto-foto tersebut berhasil menarik minat banyak penggemarnya di Kompasiana karena bercerita seputar keseharian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hingga saat ini, ratusan catatan ringan Wisnu di Kompasiana sudah dibaca  oleh sekitar 750.000 pengguna internet. Maka dari itu, tidak mengherankan bila bukunya pun diminati oleh banyak orang. Untuk lebih mempromosikan buku ini, pihak PBK akan mengadakan bedah buku di beberapa daerah.(net/jpnn)

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on February 5, 2011, in Memoar, Wisnu Nugroho. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: