The Kite Runner

THE KITE RUNNER

Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pangestuningsih
Penerbit: Qanita, Bandung, Maret 2006
Tebal: 616 halaman + xiv

Sinopsis:

Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan, untuk menentukan apa jadinya diriku.

Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan dan menerima apa pun yang mungkin menimpaku.

Atau aku bisa melarikan diri. Akhirnya, aku melarikan diri.”

Di usianya yang ke-38, Amir mendapati bahwa seluruh kehidupannya dibangun di atas tumpukan dusta dan dosa-dosa masa lalu. Tetapi, duka masa silam yang telah terkubur dalam-dalam pun senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

The Kite Runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang keluarga, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain dari Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Tetapi, bahkan kepedihan selalu menyimpan kebahagiaan. Di tengah belantara puing di kota Kabul,

RESENSI:
Menjadi Pengecut itu Manusiawi
Akmal Nasery Basral
Sumber: Tempo, 1 Mei 2006

Novel Khaled Hosseini ini merekonstruksi secara terperinci bangsa Afganistan kini. Bangsa yang masai akibat pertikaian tak kunjung
henti.

***-
BISAKAH sebuah layang-layang membelokkan jalan hidup seorang manusia secara drastis? Khaled Hosseini, penulis Amerika Serikat berdarah Afganistan, punya cerita yang menjawab pertanyaan itu secara afirmatif. The Kite Runner, novelnya, berkisah tentang dua bocah sahabat yang hidupnya direkatkan, juga dirontokkan, sebuah permainan: layang-layang. Keduanya “mati” secara bersamaan–pada hari mereka menang festival layang-layang di kota itu. Amir roboh secara psikologis setelah menyadari dirinya tak lebih dari seorang pengecut yang menjijikkan. Hassan luruh secara eksistensial, seraya membiarkan dirinya bak potongan karpet yang rela diinjak setiap orang. Semua terjadi saat umur mereka belum lagi 13 tahun. Tapi inilah The Kite Runner yang banyak dipuji itu. Dan Hosseini tak sedang berkisah tentang persahabatan remaja yang retak menjelang akil balik. Ia merekonstruksi sebuah bangsa yang masai oleh pertikaian tak kunjung henti di dalam tubuhnya sendiri. Rekonstruksi yang berawal dari perbedaan keduanya.

Amir penganut Islam Sunni, berdarah Pashtun, kelompok paling dominan di Afganistan. Ia membaca apa saja: dari Rumi, Hafiz, Saadi, Victor Hugo, Mark Twain, sampai Ian Fleming. Ayahnya seorang saudagar berpengaruh dan pemilik Mustang hitam yang dipakai aktor Steve McQueen dalam film Bullit. Selain membaca, film adalah oasis lain hidupnya. Ia bisa menonton The Magnificent Seven sampai 13 kali. Belum lagi Rio Bravo yang dibintangi John Wayne.

Hassan berdarah Hazara, penganut Islam Syiah, pariah dalam strata sosial masyarakat Afgan. Hassan ringkih, buta huruf, sumbing, dan hanya tahu kisah epik abad ke-10 tentang pahlawan-pahlawan Persia Kuno, Shahnamah. Puncak dari semua kontradiksi itu adalah fakta bahwa Hassan adalah budak Amir, meski sebagai kanak-kanak mereka dengan suka cita menoreh batang-batang pohon di ibu kota dengan tulisan bombastis: Amir dan Hassan, Sultan-sultan Kabul. Satu-satunya persamaan: keduanya tak pernah mengalami sentuhan kasih ibu kandung sejak pertama melihat dunia.

Dengan cantelan naratif (narrative hook) yang terpasang kuat sejak halaman-halaman awal, The Kite Runner bergerak cepat. Membawa pembaca menelusuri eksotisme Afganistan, juga derita yang nyaris-abadi di tanah itu. Dari konflik horizontal antarsuku dan sekte, hingga invasi Uni Soviet dan penguasaan Taliban yang melakukan hukuman mati di tengah jeda pertandingan sepak bola. Hosseini seperti ingin menjerit: Pashtun ataupun Hazara, mereka anak-anak piatu akibat tiadanya belaian sayang ibu pertiwi.

Hosseini kemudian “membebaskan” Amir, menerbangkannya ke San Francisco bersama ayahnya–bagian cerita yang merupakan bayangan kehidupan sang novelis sendiri yang kini berpraktek sebagai dokter spesialis penyakit dalam di San Jose, California. Sebab, saat Kabul jatuh dalam cengkeraman Moskow, ayah Hosseini sedang menjadi diplomat di Paris. Keluarga mereka tak bisa kembali ke Afganistan dan harus mengajukan suaka politik kepada pemerintah Amerika Serikat. Namun dengan lincah, menjelang sepertiga akhir novel, Hosseini memasang cliffhanger yang kembali membawa pembaca ke dalam situasi berbahaya di Afghanistan. Tak ada opsi lain yang bisa diambil Amir selain masuk ke negeri itu untuk menuntaskan utang masa lalunya.

The Kite Runner menjadi penting tak semata karena inilah novel Afganistan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Hosseini amat teliti menyuguhkan elemen-elemen drama kemanusiaan, penebusan dosa, dan pencarian martabat dalam sebuah panggung sosial politik yang terus berubah cepat. Ia tak berpretensi menjadikan sang tokoh sebagai protagonis murni yang berani menghadapi segala tantangan. Hosseini dengan sadar mengungkapkan sisi gelap manusia: pada saat-saat tertentu menjadi pengecut, atau menghindari tanggung jawab. Persoalannya, manusiawi jugakah jika sikap itu terus dirawat sampai ke liang lahat. Lewat The Kite Runner Hosseini jelas berkata, “Tidak!”

Akmal Nasery Basral
(Sumber: Tempo, 1 Mei 2006)

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on February 8, 2011, in Novel and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: