Pak Beye dan Kerabatnya

Pak Beye dan Kerabatnya
oleh: Wisnu Nugroho
Penerbit : Penerbit Buku Kompas (BPK)
Edisi : Soft Cover
ISBN-13 : 9789797095314
Tgl Penerbitan : 2010-11-09
Bahasa : Indonesia
Halaman : 432
Ukuran : 140x210x0

SINOPSIS
Kerabat adalah orang dekat, bahkan orang-orang terdekat. Sebagai manusia biasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki banyak kerabat yang dalam beberapa kasus lebih dekat daripada orang-orang terdekat. Wisnu Nugroho, jurnalis harian Kompas yang pernah bertugas meliput di Istana, kembali membagikan catatan tidak pentingnya.

Di antara kerabat itu adalah pengusaha, menteri, politisi, dan warga biasa. Dengan merekalah Pak Beye menjaga, merajut, dan mengembangkan kekuasaannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Pak Beye dan Kerabatnya adalah Tetralogi Sisi Lain SBY ketiga berisi sepak terjang kerabat atau orang yang mengaku-aku dekat dengan Pak Beye. Ada yang masuk akal, ada pula yang nekat. Ada yang cari posisi, ada yang cari untung, ada juga yang mencari-cari dan pergi gigit jari. Setelah tersenyum-senyum dan gelisah hadir, bersiap-siaplah berpikir

Buku “Pak Beye & Kerabatnya”, Cermin untuk Pak Beye
Sumber: http://www.suarajabar.com

Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa di Istana Presiden terdapat banyak sekali cermin. Dan, rata-rata cermin-cermin yang terpasang di tiap sudut Istana itu ukurannya cukup besar.

Mungkin Pak Beye takut melihat bayangan dirinya dalam cermin yang tidak segagah saat dia menjadi Kapten.
— Wisnu Nugroho
Sayangnya, cermin-cermin itu dipasang cukup tinggi, sehingga tidak dapat digunakan untuk berkaca. “Sayangnya cerminnya tidak bisa untuk mengaca. Padahal kita punya banyak kasus, peristiwa yang membuat kita harus banyak bercermin,” kata Wisnu Nugroho, penulis buku Pak Beye dan Kerabatnya saat peluncuran bukunya di Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (26/11/2010).

Perihal cermin Istana yang tidak dapat digunakan untuk berkaca meskipun berukuran besar tersebut, merupakan sebagian informasi sederhana yang tidak banyak diketahui orang. Wisnu sebagai wartawan Kompas yang aktif meliput di Istana pada 2004-2009 itu membagi cerita sisi lain kehidupan presiden dalam empat seri bukunya.

Kali ini, dalam buku Pak Beye dan Kerabatnya yang merupakan buku ketiga, Wisnu yang biasa disapa Inu menceritakan hubungan orang nomor satu di Indonesia itu dengan orang sekitarnya, termasuk keluarga, pembantunya, dan para pengusaha yang sering datang ke Istana.

Kembali ke cermin, menurut Inu, Pak Beye mungkin memang takut bercermin. Mungkin, kata Wisnu, SBY takut melihat bayangan dirinya dalam cermin yang tidak segagah saat dia menjadi Kapten. Pasalnya, SBY pernah menceritakan kegelisahannya akibat berat badannya yang bertambah.

“Pak Beye pernah bilang cemas dengan berat badannya dan ubannya,” tutur Inu. Di sela-sela pertemuannya dengan pewarta, menurut Inu, Presiden SBY yang dalam tulisan-tulisan Inu selalu disebut Pak Beye pernah mengaku senang ketika berat badannya turun.

Biasanya berat badan Pak Beye turun saat Indonesia sedang diguncang berbagai isu. Seperti pada waktu isu skandal Bank Century memanas. “Waktu Century, dia (SBY) bersyukur berat badannya turun. Kalau masalah sendang sulit, berat badannya turun, tapi ubannya tambah,” ungkap Wisnu disusul tawa para pengunjung yang hadir dalam peluncuran bukunya itu.

“Karena Pak Beye suka makan tahu Sumedang. Dia kalau makan tak hanya satu. Biasanya sekali disajikan itu sembilan tahu, yang dimakan tujuh dalam sekali makan,” papar Wisnu.

Menarik bukan? Jika Anda tertarik mengetahui lebih banyak sisi lain Pak Presiden? Beli saja bukPak Beye dan Kerabatnya yang sudah tersedia di berbagai toko buku di Indonesia.

Inu Ungkap Kedekatan SBY sama Pengusaha

Setelah sempat tertunda karena kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama awal November lalu, buku seri ketiga Tetralogi Sisi Lain SBY, Pak Beye dan Kerabatnya, akan resmi tadi siang, Jumat (26/11/2010), di Toko Buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa, memang tidak terdengar anak-anaknya cawe-cawe di bidang usaha. Pepih Nugraha, Editor Buku

Berbeda dengan dua buku sebelumnya, buku bersampul wajah SBY dalam nuansa warna hijau ini fokus mengupas orang-orang yang ada di lingkaran Presiden. Mereka berasal dari kalangan pengusaha, menteri, politisi, dan warga biasa.

Selain itu, seperti tertulis di sampul belakang, buku setebal 293 halaman ini berisi sepak terjang kerabat atau orang yang mengaku-aku dekat dengan Pak Beye. Ada yang cari posisi, ada yang cari untung, ada juga yang mencari-cari dan pergi gigit jari.

Namun, apabila Anda berharap buku ini akan mengulas profil setiap kerabat Presiden, siap-siap juga untuk gigit jari. Pasalnya, buku yang berasal dari hasil ngeblog Wisnu Nugroho di “Kompasiana” (www.kompasiana.com/wisnunugroho) ini menceritakan setiap kerabat Presiden berdasarkan hasil reportase yang didapat selama meliput di Istana sejak tahun 2004 hingga 2009.

Bagian pertama yang diulas adalah seputar kiprah beberapa pengusaha yang dekat dengan SBY. Pepih Nugraha, Admin “Kompasiana” yang juga editor buku ini, menulis, kisah kedekatan pengusaha yang diungkap dalam buku ini tak ubahnya kedekatan mantan Presiden Soeharto dengan sejumlah pengusaha yang kisahnya tak pernah habis selama 32 tahun berkuasa.

“Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa, memang tidak terdengar anak-anaknya cawe-cawe di bidang usaha. Meski demikian, ada beberapa pengusaha yang kerap tampak dalam sejumlah kesempatan, baik saat Susilo Bambang Yudhoyono hadir dalam acara resmi maupun santai,” tulis Pepih di Pendahuluan.

Salah satunya adalah Tommy Winata yang dalam buku ini dipanggil dengan nama “Pak Tewe”. Kisah seputar kedekatan Pak Beye dan Pak Tewe dengan beragam latar berita bisa ditemui di empat tulisan pertama buku. Seperti saat panen raya di Sukabumi dan penggunaan pesawat milik Pak Tewe untuk kegiatan kampanye Pak Beye.

Wisnu juga menyoroti kedekatan keduanya dalam proyek rehabilitasi Aceh pascatsunami 2004. “Di Aceh, Pak Tewe yang jauh sebelum pemilu legislatif merapat ke Pak Beye mendapat kepercayaan menggarap sejumlah proyek pembangunan, pupuk, infrastruktur, dan pertanian untuk dikerjakan,” tutur wartawan harian Kompas yang akrab dipanggil Mas Inu.

Selain Pak Tewe, masih banyak pengusaha lain yang diceritakan kedekatannya dengan Pak Beye. Di sini ada pasangan Murdaya Poo yang dikenal dekat dengan PDI-P dan istrinya, Hartati Murdaya Poo, Choel Mallarangeng, dan CEO Sarana Harapan Indopangan Iswahyudi. Juga ada cerita kunjungan Pak Beye ke Mitra Produksi Sigaret Sampoerna yang ke-31.

Pak Beye Tiga Kali Menangis

Seorang presiden juga memiliki rasa kemanusiaan yang sama dengan kebanyakan orang. Begitu pun dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selama masa pemerintahannya, pada 2004-2009, SBY menitikkan air mata sebanyak tiga kali. Air mata SBY yang pertama jatuh ketika dia menonton film Ayat-ayat Cinta. “Tangis pertama Pak SBY muncul pada saat nonton Ayat-ayat Cinta. Pak SBY mengatakan, saya terharu dan meneteskan air mata,” ujar wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, saat peluncuran bukunya yang berjudul Pak Beye dan Kerabatnya di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (26/11/2010).

Saat-saat SBY meneteskan air matanya tersebut diceritakan Wisnu, yang pernah aktif meliput di Istana itu, dalam bukunya. Air mata kedua SBY, kata Wisnu, terlihat ketika SBY bersedih mendengar kabar derita para korban lumpur Lapindo. Ketika itu, SBY menerima MH Ainun Nadjib yang mengajak korban lumpur Lapindo mendatangi kediaman SBY di Cikeas. “Pak Beye ternyata sama seperti kita, terenyuh juga. Sayangnya air mata jatuh itu tidak jadi kebijakan yang membuat lebih baik,” kata Wisnu.

Setelah mendengar derita para korban lumpur Lapindo tersebut, lanjut Wisnu, SBY langsung memanggil bos PT Lapindo Brantas, Nirwan Bakrie, ke Istana. Alih-alih teredam kemarahannya, kata Wisnu, SBY malah bertambah marah kepada Nirwan. Sebab, Nirwan membuat SBY menunggu cukup lama. “Ini sejarah pertama di Istana, di mana presiden harus menunggu tamu, dan SBY marah betul. Pertama harus menunggu, kedua menagih janji yang dinyatakan tapi tidak diberi, memberi ganti rugi Lapindo,” papar Wisnu.

Saking marahnya, SBY tidak banyak berkata pada Nirwan. Dengan mimik menahan marah, lanjut Wisnu, SBY berkata pada Nirwan dengan suara yang dipelankan, “Aceh saja bisa selesai, mengapa ini tidak?!” hardiknya.

Lantas, kapan ketiga kali SBY menangis? Sayangnya, Wisnu tidak mengungkapnya dalam peluncuran bukunya hari ini. Jika penasaran, Anda dapat membaca buku Pak Beye dan Kerabatnya yang sudah tersedia di pasaran.

Dalam buku tersebut dipaparkan kisah emosional yang mewarnai hubungan SBY dengan kerabatnya, termasuk para pengusaha. Salah seorang pengusaha yang digambarkan dekat dengan SBY adalah Tommy Winata. Dalam buku karangan Wisnu, Tommy disebut dengan “Pak Tewe”. (kompas)

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on February 9, 2011, in Sosial Politik, Wisnu Nugroho. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: