Desperately Seeking Paradise

Desperately Seeking Paradise

Penulis: Ziaduddin Sardar

ISBN : 9792540504

Rilis : 2006

Halaman : 485

Penerbit : Diwan Publishing

Bahasa : Indonesia

Sinopsis

Dalam setiap doktrin agama, sikap skeptis memang biasanya selalu bertabrakan dengan konsep keimanan. Pasalnya, iman selalu mengandaikan adanya keyakinan yang kukuh terhadap Yang Adiduniawi beserta seluruh perangkat doktrin teologis (syariah) yang menyertainya.

Tetapi sebenarnya, dalam tradisi agama, Islam khususnya, sikap skeptis bukanlah sesuatu yang asing. Contoh yang paling dekat adalah Imam al-Ghazali, ia senantiasa mencari kebenaran, berpindah dari keraguan satu ke keraguan lainnya.

Baginya, pengembaraan batin merupakan unsur utama dari iman. Dengan menggunakan skeptisisme dalam kerangka pencarian hakikat sejati, akhirnya ia ‘menemukan’ bahwa hal itu hanya dimungkinkan melalui tasawuf (mistisisme).

Berbeda dengan al-Ghazali, Ziauddin Sardar, yang akrab disapa Zia, lebih menekankan sikap skeptis pada hal-hal yang berkenaan untuk membangun sebuah peradaban.

Dalam setiap karya yang ditelurkannya, ia berupaya merealisasikannya. Dia mengeksplisitkan kembali dalam autobiografinya yang bertajuk Disperately Seeking Paradise ; Kisah Perjalanan Hidup Seorang Muslim Skeptis.

Dalam autobiografi itu, ia bukan hanya membedah mengenai surga yang selalu dicita-citakan setiap muslim di akhirat nanti, tetapi juga makna metaforis surga dalam kehidupan keseharian kita. Dalam artian, surga tidak lagi dimaknai sebagai sesuatu yang melulu bersifat transenden, tetapi juga berkaitan dengan dunia realitas dan mengarah kepada terciptanya sebuah peradaban.

Bagi cendekiawan yang sering disebut sebagai futurolog ini, ada sebuah paradoks dalam makna surga. Di satu sisi, makna surga direduksi menjadi sekumpulan konsep syariah yang kaku dan eksklusif, yang membolehkan aksi-aksi teror, pembunuhan, dan berbagai tindak kekerasan lainnya untuk satu tujuan surga.

Hal ini mendapatkan representasi yang nyata dalam tragedi 11 September 2001 . Bukan hanya itu, reduksi makna surga seperti itu juga berimbas pada segala bentuk pelarangan terhadap berbagai manifestasi kesenian dan kebudayaan, sehingga surga (yang bagi sebagian orang ini diartikan sebagai inti dan hakikat agama) telah menjadi neraka di dunia; penuh darah dan fanatisme, tekanan dan kebrutalan, sensor dan pengebirian (479).

Di sisi lain, ada sebagian orang mereduksi makna surga menjadi kenikmatan duniawi semata, yang melulu menampilkan sikap-sikap hedonis semata sehingga kehidupan di dunia ini hanya dibatasi pada hal-hal yang bersifat material dan untuk pemenuhan kebutuhan serta kesenangan fisik belaka.

Reduksi makna inilah yang agaknya ingin dibongkar Zia. Baginya, surga merupakan sebuah metafora. Dalam Alquran, surga kerap kali digambarkan dengan taman dengan segala keindahan dan kenikmatan di dalamnya.

Tetapi, lanjutnya, surga bukanlah taman, sebab surga tidak pernah dilihat mata dan tak pernah dialami tubuh, lantaran surga tidak berada di dunia ini. Dan apa yang dapat diserap dari pengetahuan terbatas (metafora) atas surga selalu mengandung kekeliruan. Artinya, metafora hanyalah pengganti keterbatasan bahasa untuk mendemonstrasikan kemahadahsyatan dan keluarbiasaan dunia yang akan datang (surga), tetapi tetap saja kita tidak mungkin dapat menggambarkan surga secara tepat.

Menurut Zia, makna metaforsis surga harus diturunkan ke dalam realitas kita di dunia ini, yaitu untuk menciptakan peradaban di masa depan yang lebih inklusif, toleran, dan manusiawi sehingga akan tercipta tatanan kehidupan yang dipenuhi kedamaian, kesejahteraan, dan ketenteraman bagi manusia di seantero jagat raya ini, yang merupakan tujuan dari agama itu sendiri. Tetapi menciptakan sebuah peradaban tidaklah semudah membalikkan tangan, ia merupakan sebuah proses yang terus-menerus ‘menjadi’.

Islam memang pernah memiliki peradaban yang adi luhung, yang sekarang ini telah diteruskan (peradaban) Barat. Tetapi bukan berarti kita harus kembali ke peradaban masa lalu, dan menolak mentah-mentah peradaban Barat dengan upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Ataupun sebaliknya, kita menerima peradaban Barat secara taken for granted sebagai sebuah keniscayaan sejarah, sehingga menafikan pentingnya dialog dan upaya saling mengisi antara keduanya untuk menciptakan peradaban di masa depan yang lebih cerah.

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on March 3, 2011, in AGAMA, Ziauddin Sardar and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Awal-awal membaca tulisan Komo, tidak enak (kering dan kaku) padahal yang ditulisnya tentang yang enak-enak lho. Kian hari, jari dan pena Komo kian lemas, tulisannya kian enak dibaca. Seperti tulisan di atas ini. Mungkin ini buah dari perjumpaannya dengan buku-buku humaniora. Terus membaca Mo, buat ulasannya dan rajinlah berbagi. Kami-kami ini tinggal ikut memetik hasil, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: