Seri Gajah Mada: Gajah Mada 1

Seri Gajah Mada: Gajah Mada 1
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai Solo
Cetakan #4: 2006
Tebal: 582 hal + x

Gajah Mada telah mendapat informasi penting tentang akan adanya makar. Telik sandi tak dikenal terus menyalurkan beberapa keterangan penting dengan menggunakan kata sendi hingga Gajah Mada dan pasukan Bhayangkaranya yang hanya berjumlah tak lebih dari dua puluh orang, berhasil menyelamatkan Raja yang terus diburu. Gajah Mada harus menyelamatkan Jayanegara hingga ke Bedander (Bojonegoro). Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara selanjutnya menyerang balik dan berhasil mengjungkalkan Ra Kuti dari dhampar yang bukan haknya

Resensi:
“Misteri di Balik Pemberontakan Ra Kuti”
oleh:
Bahtiar HS

Lintang kemukus beberapa kali muncul di langit Majapahit. Dan kini, kabut
tebal seperti menyelimuti segenap sudut kotaraja Wilwatikta. Orang-orang
bertanya, peristiwa besar apa yang akan terjadi esok hari? Ingatan mereka
melayang pada pertempuran Ken Arok dari Tumapel dengan Kertajaya dari
kerajaan Kediri. Kertajaya tumpas. Juga ketika Singasari, kerajaan yang
dengan susah-payah dibangun Ken Arok dihancurkan oleh Jayakatwang dari
Kediri. Kertanegara, raja Singasari saat itu pun, tapis. Juga hal serupa
terjadi ketika malam menjelang kematian Ken Dedes, seorang permaisuri
Tumapel dan Singasari yang dari rahimnya dilahirkan raja-raja Jawa.

Dan kekhawatiran mereka ternyata terbukti. Rakryan Kuti memberontak. Dengan
memanfaatkan pasukan Jala Rananggana dan Jalayuda, Kuti, salah seorang dari
Dharmaputra Winehsuka yang paling berpengaruh, madeg kraman, menggempur
istana raja Jayanegara dari pintu belakang. Tujuannya hanya satu:
menggulingkan Kalagemet, nama kecil Jayanegara, dan mengangkat dirinya
menjadi raja.

Hal ini sama sekali tak pernah disangka-sangka, karena Dharmaputra tidak
memiliki pasukan. Tetapi dengan segala tipu-muslihat dan akal bulusnya, Ra
Kuti bisa memanfaatkan pasukan lain dan membaca keadaan. Dibantu
saudara-saudaranya: Ra Yuyu, Ra Banyak, Ra Pangsa, Ra Wedeng, dan Ra Tanca,
juga temenggung Pujut Luntar dan Panji Watang — keduanya adalah pimpinan
pasukan Jala Rananggana dan Jalayuda — Ra Kuti berhasil menggerakkan
pasukan segelar-sepapan menggilas istana.

Inilah pemberontakan yang banjir darah. Sebuah ambisi menguasai dampar
kedaton yang berlepotan darah. Ra Kuti memang berhasil mengusir Jayanegara
dari istana. Namun, korban yang jatuh, baik dari pasukan perang maupun
rakyat jelata tak terhitung lagi. Termasuk Panji Watang, Pujut Luntar, dan
juga Lembu Sora, pimpinan pasukan Jalapati yang lebih memilih berhadapan
dengannya. Ketiganya tewas sebagai martir, sekaligus korban.

Adalah bekel Gajahmada, pimpinan pasukan Bhayangkara, yang telah berhasil
mengamankan Jayanegara keluar istana. Sebuah pengalaman petualangan yang tak
pernah sama sekali terbayangkan Jayanegara. Ia harus menyamar, mengarungi
sungai, melewati gorong-gorong, berjalan tak tentu rimba dan tak pernah
berhenti, menginap di kebun jagung atau di dangau, bersembunyi berbalut
lumpur dan diinjak-injak musuh. Juga makan makanan rakyat jelata yang
mungkin tak pernah ditemuinya di istana. Dari Wilwatikta, atas inisiatif dan
strategi Gajahmada, Jayanegara diungsikan ke Kabuyutan Mojoagung, kemudian
bergerak lagi karena ketahuan Ra Kuti dan pasukannya, hingga tiba di
Bedander. Sebuah pedukuhan tandus di Pegunungan Kapur Utara.

Upaya pengungsian Jayanegara dan juga perebutan kembali takhta Ra Kuti oleh
pasukan Bhayangkara diwarnai dengan penyusupan telik sandi, bahkan di tubuh
Bhayangkara sendiri. Sehingga, berbagai rencana Gajahmada selalu diketahui
musuh. Beberapa tempat persembunyian Jayanegara juga terendus mereka. Hal
mana menyebabkan Gajahmada harus membersihkan Bhayangkara dari telik sandi
Ra Kuti itu. Dan hal itu tidaklah mudah, karena setiap Bhayangkara adalah
prajurit pilihan, memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit kebanyakan,
cukat trengginas dan tahan banting, bahkan terhadap intimidasi. Dengan
susah-payah, Gajahmada akhirnya bisa membersihkan anggotanya yang membelot,
meski untuk itu, ia harus kehilangan beberapa anggota pasukan, seperti
Mahisa Kingkin dan Risang Panjer Lawang. Sedikit banyak, upaya Gajahmada ini
mendapatkan bantuan dari seseorang misterius yang menyebut dirinya Bagaskara
Manjer Kawuryan. Sebuah kalimat sandi yang berarti matahari
terang-benderang. Orang ini beberapa kali memberikan informasi dan juga
peringatan yang sangat berguna buat Gajahmada untuk mengambil
langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi keadaan.

Di sisi lain, meski Ra Kuti berhasil menguasai istana, tetapi ia tidak
menguasai seluruh pasukan. Ia juga tak disenangi penduduk, karena berbagai
kebijakannya yang justru menyengsarakan mereka. Perampokan, perampasan,
penggeledehan, dan juga perkosaan banyak terjadi, justru dilakukan oleh para
prajuritnya di lapangan. Semua itu menjadikan rakyat ikut berontak dengan
caranya sendiri. Pepe di alun-alun Majapahit misalnya. Tetapi sayangnya Ra
Kuti justru membinasakan mereka yang tengah pepe itu. Satu hal yang tak
pernah terjadi pada masa-masa raja sebelumnya.

Di atas situasi di mana Ra Kuti tak mengakar di masyarakat bahkan
pendukungnya di istana inilah, Gajahmada dan pasukan Bhayangkara menyusun
kekuatan untuk menggempur balik Ra Kuti. Dan usahanya itu pun membuahkan
hasil. Ra Kuti dan pasukannya berhasil dilumpuhkan. Dan kekuasaan
dikembalikan kepada Jayanegara sebagai raja yang sah. Maka, berhasillah
Gajahmada dan pasukan Bhayangkaranya mengawal dan kemudian menempatkan
kembali raja yang sah itu ke dampar kedaton Majapahit yang sempat digoncang
kraman.

Namun, Jayanegara ternyata masih menyimpan bahaya. Ketika ia sakit, tujuh
tahun kemudian, Gajahmada berinisiatif meminta bantuan Ra Tanca,
satu-satunya Dharmaputra Winehsuka yang selamat karena ia menyerah, yang
tengah dipenjara. Ia memang tabib kesohor di Majapahit. Bahkan sebelumnya,
Ra Tanca sering dimintai bantuan Jayanegara ketika ia atau keluarganya
sakit.

Namun, justru itulah saat dimana Jayanegara menghadapi ancaman yang
sebenarnya. Ketika Ra Tanca meramu obat, ternyata obat tersebut beracun yang
sangat mematikan. Gajahmada tak menduga sama sekali hal itu terjadi, karena
obat yang sama sudah diminum Ra Tanca lebih dulu dan terbukti tak
berpengaruh pada tabib itu. Jayanegara akhirnya tewas di tempat. Gajahmada
langsung membunuh Ra Tanca karena ulahnya. Mangkatlah raja Jayanegara saat
itu juga. Dan Majapahit pun berduka.

Dan pada saat itulah terkuak siapa sebenarnya Bagaskara Manjer Kawuryan itu.

***

Saya teringat dengan Nagrasasra-Sabuk Inten dan juga Api di Bukit Menoreh
ketika membaca buku novel ini. Saya teringat SH. Mintardja. Dulu, ketika
masih SMP, saya rela menunggu kedatangan buku seri lanjutan cerita-cerita
itu tiap bulan di rumah tetangga yang berlangganan, hanya untuk mengikuti
kisah lanjutannya.

Demikian juga yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Ia menyeret saya
untuk terus membaca hingga halaman terakhir. Ia memesona saya, dan
syukurlah, saya tak perlu menunggu berbulan-bulan hingga kisah itu –
sementara – berakhir. Bagaimanapun saya mendapati buku lanjutannya itu,
jilid II, III, bahkan kabarnya jilid V pun sudah ditulis Pak Langit. Kalau
tidak salah tentang muksa-nya Gajahmada.

Sebagaimana dulu tergila-gila dengan sandirawa radio Tutur Tinular, membaca
Gajahmada ini pun membuat saya mengalami hal serupa. Apalagi Pak Langit
membumbui kisah ini dengan beberapa misteri, permainan telik sandi yang
mengasyikkan, serupa melihat jalannya perang yang penuh strategi dan
tipu-muslihat. Kelihatannya ini khas Pak Langit, karena begitu pula adanya
ketika saya membaca karya beliau yang lain. Libby dan De Castaz, misalnya.

Membaca detil peristiwa pemberontakan Kuti itu, saya bertanya-tanya:
darimana beliau mendapatkan sumber cerita? Bagaimana beliau menempatkan
orang-orang, yang mungkin fiktif, diantara cerita itu. Sehingga, terciptalah
sinergi yang asyik, hingga saya bahkan tak lagi tahu, ini cerita
sungguh-sungguh terjadi atau rekaan belaka? Namun satu hal, saya yakin Pak
Langit telah melakukan riset yang luar biasa. Bagaimana tidak? Ia bisa
menyebut denah istana Majapahit berikut nama-nama benteng dan bagian-bagian
istananya. Ia juga menyebut berbagai tempat seperti Rakryan (sekarang kota
Krian), Angawiyat (sekarang Ngawi), Crubang (sekarang Caruban), Ponorogo,
Sambit Purwohantoro (sekarang sebuah kecamatan di Ponorogo: Sambit
Purwantoro), Mojoagung, Bander atau Bebander, dan sebagainya. Sehingga
setelah membacanya, kita seperti dihadapkan pada sebuah peta lama berabad
yang lalu di depan mata.

Hanya saja, ada beberapa hal yang menurut saya sedikit mengganggu. Pertama,
banyak perulangan yang mungkin tak terlalu perlu disampaikan, seperti seting
awal tentang kabut tebal yang menyelimuti Majapahit, terjadinya perampokan,
perampasan, dan perkosaan ketika Ra Kuti menguasai keraton, dan beberapa
situasi lain. Kalimat atau situasi itu diulang-ulang di berbagai tempat.
Rasanya sedikit membosankan.

Kedua, pada beberapa tempat diceritakan tokoh-tokoh pembantu atau pelengkap,
biasanya penduduk, yang berbincang mengenai sesuatu, atau mengalami sesuatu,
tetapi tidak terlalu berpengaruh pada cerita. Semacam jeda, yang jika
dihilangkan pun dan diganti dengan narasi yang lain mungkin tak mengapa.
Entah mengapa, saya tak begitu “menikmati” sempalan ini.

Ketiga, digunakannya sudut pandang (POV) orang ketiga yang tahu segalanya.
Artinya, sampai perasaan yang terbetik di hati tokohnya pun bisa diungkapkan
sehingga pembaca tahu perasaan tokoh. Paling menyolok saya dapati pada telik
sandi Singa Parepen yang terus diungkapkan perasaannya di dalam cerita,
bahkan siapa sebenarnya pembunuh Risang Panjer Lawang, serta kematian Mahisa
Kingkin apakah sudah membuat bersih tubuh Bhayangkara atau belum. Kedua hal
tersebut sudah diketahui di depan, karena si telik sandi, Singa Parepen,
mengungkapkan perasaannya di dalam cerita. Dari aspek ke-thriller-an, hal
itu membuat tingkat kepenasaranan saya sangat menurun. Toh saya sudah tahu
bahwa telik sandi Ra Kuti yang menyusup di tubuh Bhayangkara ternyata belum
mati!

Tetapi, hal-hal kecil di atas tak lantas membuat cerita ini tak menarik.
Semuanya tak berpengaruh rasanya, karena hanya dalam tiga-empat hari, di
sela-sela kesibukan kerja, saya bisa menyelesaikan bacaan mengasyikkan ini.

Salut buat Pak Langit! Saya akan baca buku keduanya. Saya sudah membayangkan
akan di-semoni-ni istri saya lagi karena tak mengindahkannya ketika asyik
membaca buku itu!

***

HYPERLINK “http://bahtiarhs.multiply.com/”http://bahtiarhs.multiply.com

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on March 17, 2011, in Fiksi Sejarah, Langit Kresna Hariadi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: