PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM Catatan Harian Ahmad Wahib

PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM Catatan Harian Ahmad Wahib

“PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM: CATATAN HARIAN AHMAD WAHIB”
Penulis : Djohan Effendi Ismed Natsir (Ed.)
Cetakan : ke-6, Tahun 2003
Halaman : 404 Halaman (Soft Cover)
Dimensi(LxP) : 17,5X11 cm, 345 gr

Cetusan-cetusan dari pergulatan pikiran itu tampak dan sangat mewarnai catan-catan hariannya. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak hal-hal yang ditulisnya cukup membuat dahi kebanyakan orang mengkerut, lebih-lebih bagi mereka yang menganggap apa yang dipersoalkannya adalah soal-soal yang tabu dan final. Akan tetapi saya rasa, bagaimanapun keyakinan kita masing-masing, catatan harian almarhum Ahmad Wahib ini cukup mengsankan. Bahkan mungkin akan merangsang dan menggoda pikiran kita. Paling tidak, bisa memahami pergulatan pikiran seorang anak muda yang sedang mencari. Orang boleh seatuju atau menolak pikiran-pikiran almarhum Ahmad Wahib, tetapi ia yang berperwakan kecil, walau meninggal dalam usia yang masih muda, ternyata hidupnya atidak sia-sia. Dan bagi kawan-kawannya, catatan harian alamarhum ini merupakan warisan yang sangat berharga.

— (H.A Mukti Ali).

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim”. – Catatan Harian 9 Oktober 1969 –

Ahmad Wahib adalah seorang muslim yang kritis dalam beragama. Ia menulis demikian: Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karerna tidak berpikir sama sekali. Ya, walaupun sama-sama jelek (h.24). Ungkapan ini untuk memberi jawaban kepada orang-orang yang menyatakan: “Berpikir tentang Tuhan itu Haram!”. Bahwa mempertanyakan segala sesuatu, termasuk eksistensi Tuhan adalah langkah penting menghancurkan kedok hidup beragama yang makin buram akhir-akhir ini. Ahmad Wahib membentuk dirinya menjadi seorang muslim yang mau berpikir merdeka tentang Tuhan, Yang Maha Segala yang diikutinya. Dia mau menjadi seorang yang ‘nakal’ dengan menghalalkan berpikir semaksimal mungkin tentang Tuhan. Menjadi seorang muslim emosional saja tidak cukup, karena itu berfikir bebas dan bersikap terbuka merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar-tawar (h.74).

Pemikiran dan visi yang benar tentang Tuhan yang benar mempermudah praktek hidup keagamaan yang benar. Walaupun kita mengatakan diri kita seorang sebagai penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai Islam (h.23). Ahmad Wahib nampaknya melihat bahwa kedangkalan hidup beragama sangat dipengaruhi oleh keterbatasn visi tentang Tuhan. Iman pada Tuhan pun menjadi dangkal aplikasinya. Relasi dalam berkehidupan sosial harus menjadi pisau cukur untuk memangkas klaim-klaim beriman kepada Tuhan, khususnya kepada mereka yang beriman secara radikal. Bahwa beragama dan/atau beriman itu harus terlihat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam praksis hidup (real dan bisa dievaluasi). Pada akhirnya, keberanian untuk berpikir dan bervisi membuka wacana tentang ketuhanan akan membantu manusia itu sendiri untuk memurnikan motivasinya menjadi pengikut Tuhan yang benar dengan benar.

Resensi:

Bak tukang batu menghantam tembok

oleh : Abdurrahman Wahid

BAGI pembaca yang tidak mengenalnya secara pribadi, sulit mendapatkan kesan utuh tentang diri Ahmad Wahib hanya dari bukunya ini. Pemikir muda muslim yang mati muda ini (1943-1973), menyajikan dalam catatan harian yang diwariskannya, beberapa kepingan yang mungkin dapat menyajikan gambaran lengkap tentang kepribadian yang bulat, hanya setelah pengenalan pribadi yang cukup lama. Ketulusan untuk memperoleh kebenaran dengan pertaruhan tertinggi. Keberanian menghadapkan diri sendiri kepada masalah-masalah keimanan terdalam –yang berarti pengakuan penuh atas keraguan mendasar dalam hati sendiri. Dan kemampuan untuk memetik pelajaran dari pihak mana pun. Semua itu adalah hal-hal yang saling bertentangan tetapi berkembang dalam hidup Ahmad Wahib.

Mengejar kebenaran secara tuntas mengandaikan kepastian sikap yang penuh — katakanlah semacam lan vitalnya seorang filosof. Sedangkan introspeksi ke dalam, justru menampakkan wajah yang berkebalikan. Lalu bagaimana pula keduanya harus dipertalikan dengan kelemahan hati seorang yang mampu belajar dari siapa pun? Sulit diketahui ‘bagaimananya’ pergolakan pemikiran Ahmad Wahib. Terlebih-lebih kalau diteropong dari sisi lain watak hidupnya sendiri: kebimbangan (atau justru rasa rendah dirinya?) untuk mewujudkan tindak lanjut bagi ikatan kasih yang dijalinnya dengan seorang gadis, umpamanya. Atau sifat pemalunya yang demikian besar. Kesan tiadanya keutuhan gambaran itulah yang muncul dari membaca buku ini. Padahal pribadi yang digambirkan justru sangat kuat proyeksinya kepada pembaca sebagai sesuatu yang utuh! Hanya orang tidak tahu keseluruhan wajah keutuhan itu sendiri. Di sinilah harus disayangkan kegagalan kata pengantar Prof. Dr. A. Mukti Ali dan pendahuluan Djohan Effendi.

Sebagai bekas pembimbing intelektual-keagamaan dan kawan terdekat Ahmad Wahib, seharusnya kedua orang tersebut menjelaskan secara terperinci aspekaspek pergulatannya yang tidak tertangkap oleh orang lain. Manakah gambaran jelas tentang bermulanya proses itu? Dera apakah yang harus dijalani Ahmad A’ahib dalam hidupnya, yang membentuk kepribadiannya? Sejauh manakah pemikir muda ini disengsarakan kejujurannya yang demikian mutlak itu? Kita tahu ia harus bergulat, tetapi apa lingkup pergulatannya, kesakitannya sewaktu menjalani proses tersebut, harapan yang dirumuskannya sebagai uung pergulatan?

Tetapi yang luar biasa dari buku ini adalah kenyataan akan tingginya intenitas pergulatan pemikiran dalam diri Ahmad Wahib. Tanpa ada kejelasan situasinya sekalipun, kita tetap merasakan betapa besar arti pergulatan itu bagi diri Ahmad Wahib sendiri dan bagi temanteman sejawatnya. Bahkan mungkin bagi perkembangan Islam sendiri, di sini ! Begitu kuat keterlibatan Ahmad Wahib kepada penentuan masa depan agama yang dicintainya itu, terasa bagi kita. adahal, tetap saja tidak jelas apa visinya akan masa lampau agama tersebut. Kalau ia dapati kekurangan sedemikian mendasar di dalamnya, mengapakah Ahmad Wahib tidak menolaknya? Bahkan, sebaliknya, ia lebih dalam mencintainya –bagaikan orang mencintai pelacur walaupun tahu apa yang dilakukan pelacur itu sehari-hari.

Berpikir Nisbi Dalam pernyataannya bahwa ia harus meragukan adanya Tuhan untuk dapat lebih merasakan makna kehadiran-Nya (hal. 23, 30 dan 47, umpamanya), jelas menunjukkan kebutuhannya sendiri kepada Tuhan yang itu-itu juga–bukannya Tuhan yang lain hasil ‘buatannya’ sendiri. Inilah yang merupakan inti kehadiran Ahmad Wahib dalam kehidupan kaum muslimin kita di permulaan tahun tujuhpuluhan ketundukannya yang penuh kepada Yang Mutlak, dengan menggunakan cara-cara berpikir nisbi. Selebihnya menarik Jterutama sebagai kesaksian historis akan potensinya yang besar di bidang pemikiran keagamaan seandainya ia tidak mati begitu muda. Betapa ia mengerti hakikat ‘kebidatan’nya NU, sambil tetap tidak mampu melepaskan diri dari belenggu kecintaan kepada HMI. Betapa pandainya ia memaki kawan seiring, karena kepengecutan mereka dalam menanggung konsekuensi logis pemikiran mereka. Tetapi sambil merasa ketakutan, bahwa ia akan menganiaya mereka dengan tuntutan-tuntutan terlalu berat. Dan betapa Ahmao Wahib mampu mengajukan begitu banyak pertanyaan fundamental kepada teman-teman seagamanya, padahal ia sendiri sangat kekurangan pengetahuan dasar tentang pemikiran keagamaan itu sendiri !

Ia menyadari bahwa keterlibatannya kepada ‘pembaharuan Islam’ justru muncul dari kenyataan begitu besarnya kemelut kehidupan kaum muslimin sendiri. Dengan kata lain, Ahmad Wahib sedalam-dalamnya menyadari bahwa hanya satu-dua orang saja yang akan mampu mengikutinya. Sisanya, tetap saja berada dalam kemelut mereka. Toh ia tak juga mau meninggalkan upaya ‘meningkatkan keimanan’ mereka, meskipun ia tahu akan gagal total. Dilakukannya itu tidak lain karena kecintaannya kepada Islam yang ‘apa adanya saja’, sebagaimana tampak di pelupuk matanya. Upayanya memberonak tidak lain karena ketakutan akan irelevansi ‘Islam apa adanya’ itu bagi orang lain di kemudian hari, bukan bagi dirinya.

Ternyata, kalau dilihat dari sudut ini, Ahmad Wahib merupakan sisi lain dari mata uang yang sama: ketakutan akan erosi keimanan kaum muslimin di kemudian hari. Wajah satunya lagi, adalah kuatnya kecenderungan sementara lulusan dan jebolan disiplin ilmiah eksakta untuk mengajukan ‘kebenaran’ Islam secara formal. Ahmad Wahib sendiri adalah dari kelompok ‘jebolan eksakta’, yang kemudian lari ke filsafat. Tetapi ia mellolak formalisme seperti itu. Namun tetap saja ia melakukan kerja mengukuhkan kehadiran Islam, seperti ‘kaum formalis’ itu. Mengukuhkan Agama Memang, sedalam-dalamnya Ahmad Wahib adalah seorang muslim dengan keimanan penuh. Pemberontakan yang dilakukannya justru bertujuan mengukuhkan agama yang diyakininya itu. Bak tukang batu yang menghantamkan palunya ke tembok, untuk menguji kekuatan dan daya tahan tembok tersebut.

Siapa dapat mengatakan menjadi ‘muslim bergolak dan pemberontak’ seperti Ahmad Wahib ini lebih rendah kadarnya dari ‘kemusliman’ mereka yang tidak pernah mempertanyakan kebenaran agama mereka sekali pun? Kutipan berikut dari catatan harian Ahmad Wahib dengan tepat menggambarkan kesimpulan itu. “Aku bukan nasionalis, bukan katolik. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudahmudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia”. (hal. 46). Alangkah mulianya pribadi Ahmad Wahib, dan alangkah sempurna kemuslimannya. Abdurrahman Wahid

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1981/09/19/BK/mbm.19810919.BK51319.id.html

Pergolakan yang Tak Pernah Padam

Ulil Abshar Abdalla

BUKU kecil berwarna hijau dengan gambar kepalan tangan yang gempal di sampulnya itu saya kenal pertama kali sewaktu masih belajar di pesantren pada awal 1980-an. Saya melihat sejumlah santri dengan sembunyi-sembunyi membaca buku itu. Agar tak ketahuan, mereka menaruh buku itu di sela-sela kitab berbahasa Arab. Dari luar, mereka tampak seolah-olah membaca kitab, padahal sedang menikmati sebuah buku yang dianggap “berbahaya” oleh banyak tokoh Islam.

Buku Pergolakan Pemikiran Islam yang berisi catatan harian Ahmad Wahib itu sudah menimbulkan “pergolakan” yang hebat di kalangan Islam sejak diterbitkan oleh LP3ES untuk pertama kali pada 1981. Kegemparan yang ditimbulkan buku ini melanjutkan heboh serupa yang disulut oleh pidato Nurcholish Madjid pada Januari 1970. Baik Wahib maupun Cak Nur lahir dari rahim yang sama, yakni Himpunan Mahasiswa Islam, organisasi mahasiswa Islam terbesar saat itu.

Gagasan Wahib dan Cak Nur memang menimbulkan kegemparan karena menabrak sejumlah doktrin yang sudah dianggap selesai. Sebaliknya, di mata anak-anak muda seperti mereka, doktrin-doktrin itu justru dipandang sebagai kebuntuan. Keprihatinan Wahib dan Cak Nur sebetulnya sederhana: kenapa Islam berdiri di luar perubahan-perubahan sosial yang terjadi, tanpa bisa memberikan arahan? Inti keprihatinannya satu: kontekstualisasi-bagaimana Islam nyambung dan relevan dengan perubahan-perubahan yang terus terjadi, bukan agama antik yang hanya peduli pada siksa kubur, neraka, surga, dan bidadari.

Jika kita lihat sosiologi umat Islam pada 1970-an, akan terlihat bahwa pergolakan dalam tubuh umat Islam itu adalah sebentuk reaksi terhadap perubahan politik dan sosial yang begitu cepat saat itu. Pemerintah Orde Baru sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan dan modernisasi. Kalau kita telaah perdebatan Islam pada periode itu, tema modernisasi (juga westernisasi) menjadi topik utama yang selalu dipercakapkan dengan sengit oleh para aktivis muslim. Yang menarik, tema ini menjadi perdebatan keras terutama di kalangan intelektual Islam “modernis” yang mewarisi tradisi Partai Masyumi. Kalau kita baca catatan harian Wahib, akan kelihatan betapa sejumlah anak muda seperti dirinya dan Cak Nur kecewa terhadap kalangan “sepuh” di Masyumi yang bersikap terlalu “ideologis” dalam memandang perubahan-perubahan yang terjadi.

Tak aneh jika salah satu tema utama yang menjadi keprihatinan anak-anak muda seperti Wahib adalah pertanyaan berikut ini: apakah Islam sebuah ideologi atau bukan? Jawaban Wahib jelas: mereka menampik Islam sebagai ideologi. Sikap ini sebetulnya mudah dipahami. Dalam pandangan Wahib, ideologi cenderung tertutup. Ini tak sesuai dengan visinya tentang Islam sebagai agama yang terus bergerak sesuai dengan perkembangan sejarah.

Gagasan Wahib ini sejajar dengan pandangan para pemikir Islam liberal di segala penjuru dunia hingga sekarang: mereka menolak pandangan kaum revivalis, seperti Maududi, Qutb, dan Khomeini, yang ingin menjadikan Islam sebagai ideologi yang dapat menandingi ideologi sekuler seperti kapitalisme dan komunisme.

Bagi Wahib, Islam bukanlah ideologi, melainkan agama yang selalu membuka diri terhadap segala bentuk interpretasi. Jika Islam menjadi ideologi, ia akan cenderung melakukan fiksasi, yakni mengunci diri sebagai formula-jawaban (al-hall) yang dianggap valid dan relevan untuk selama-lamanya, seraya menolak kemungkinan tafsir baru.

Saya menduga catatan harian Ahmad Wahib telah menjadi bahan bacaan bagi puluhan ribu anak muda Islam di seluruh Indonesia. Bersama catatan harian lain milik Soe Hok Gie, yang juga diterbitkan LP3ES, catatan harian Wahib merupakan semacam “katekismus” atau bacaan wajib bagi sejumlah aktivis Islam pada 1980-an dan 1990-an.

Buku itu memang tidak mengetengahkan pemikiran yang sudah matang. Apa yang tertulis di sana adalah lintasan ide yang-meminjam istilah yang populer pada 1960-an-“belum sudah”, gagasan yang masih dalam proses. Dulu banyak kalangan, termasuk Profesor H.M. Rasjidi (pengkritik paling gigih gerakan pembaruan Cak Nur), yang menyesalkan kenapa buku yang berisi gagasan yang belum selesai itu diterbitkan dan diketengahkan kepada umat.

Menurut saya, daya pikat buku Wahib justru terletak pada kebelumsudahannya itu. Ia merangsang anak-anak muda untuk mempertanyakan hal-hal yang telah dianggap selesai dalam Islam, bukan buru-buru mencari jawaban. Ia istimewa justru karena mengajak generasi baru untuk menjelajah, bukan mengulang formula jawaban yang sudah tersedia di kalangan umat selama ini.

Magnet buku Wahib sekarang mungkin sudah mulai pudar. Anak-anak muda yang tak puas dengan interpretasi kaum ortodoks Islam bisa menimba ilham dari pemikir Islam kritis dari berbagai penjuru dunia. Mereka bisa membaca Mohamed Arkoun, Hassan Hanafi, Abdullahi Ahmed an-Na’im, Khaled Abou el-Fadl, Muhammed Abed al-Jabiri, dan sebagainya, selain para pemikir muslim Indonesia sendiri yang datang setelah Wahib.

Tapi kita tak boleh melupakan jejak panjang yang telah ditinggalkan catatan harian Wahib ini di kalangan ribuan aktivis muslim di Indonesia. Meski buku Wahib sudah tak lagi dibaca luas sekarang, kegelisahan dan keberaniannya untuk mempersoalkan doktrin-doktrin Islam yang telah mapan terus diwarisi oleh generasi muda Islam hingga saat ini. Pergolakan Wahib tak pernah padam.

Sejak dulu, kalangan ortodoks Islam selalu ingin menyingkirkan jauh-jauh keragu-raguan seperti tecermin dalam pikiran-pikiran Wahib itu-keraguan yang di mata mereka hanya akan mengganggu kemurnian akidah umat. Tapi usaha itu tampaknya tak akan pernah bisa berhasil. Pergolakan demi pergolakan terus muncul dalam tubuh umat Islam-sesuatu yang, bagi saya, menandakan gejala yang positif.

Pergolakan itu menandakan bahwa umat Islam terus-menerus mencari formula baru yang tepat untuk menjawab keadaan yang terus berubah. Islam memang agama “sempurna”, seperti sering dikatakan oleh para juru dakwah. Tapi kesempurnaan Islam bukan barang yang telah jadi, melainkan sebaliknya: sebuah proses yang melibatkan keberanian untuk terus menafsir ajaran-ajaran yang sudah telanjur dianggap mapan.

Kita pantas mengenang buku Wahib ini sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perdebatan ide-ide Islam di Indonesia. Bukan hanya itu. Buku ini juga layak kita kenang dalam proses “membangsa” (nation building) secara keseluruhan. Sudah tentu, proses membangsa terjadi tidak saja melalui pidato yang gemuruh dari Bung Karno atau indoktrinasi Pancasila seperti pernah dilakukan Orde Baru dulu. Proses membangsa juga bisa terjadi melalui sebuah catatan harian seperti ditulis oleh Wahib itu.

Ulil Abshar Abdalla, Mahasiswa philosophiae doctor kajian Islam di Universitas Harvard dan peneliti di Freedom Institute, Jakarta.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/05/19/LU/mbm.20080519.LU127229.id.html

About sulastama

Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Posted on February 18, 2012, in Memoar. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: