Blog Archives

Perawan Dalam Cengkeraman Militer

Judul: Perawan Dalam Cengkeraman Militer
ISBN / EAN: 9789799023483 / 9789799023483
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer, koesalah Soebagyo Toer,
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Halaman: 218

SINOPSIS:
Catatan Pramoedya Ananta Toer tentang derita gadis-gadis Indonesia yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang pada masa perang dunia.

RESENSI:

Sepucuk Surat Getir kepada Generasi Baru
oleh: Ruth Indiah Rahayu

Tak seorang pun yang dapat menolong mereka. Di sini pula mereka kehilangan segala-galanya: kehormatan, cita-cita, harga diri, hubungan dengan dunia luar, peradaban dan kebudayaan …suatu perampasan total. Kalimat yang dicuplik ini menggambarkan keadaan 228 perempuan muda dari Jawa yang diangkut kapal laut ke Pulau Buru. Mereka dibawa ke benteng bawah tanah yang terletak di Gunung Palamada dan menjalani kerja paksa sebagai budak seksual tentara Jepang selama Perang Asia Timur Raya. Dapat dibayangkan, para perempuan itu seperti daun sirih segar yang bakal dikunyah tandas oleh tentara itu. Mereka kemudian ditinggalkan seperti sampah dalam benteng ketika Jepang kalah. Sejak saat itu, perempuan-perempuan itu memasuki episode penderitaan berikutnya dalam rentang perjalanan yang tak pernah dipilihnya, hingga akhirnya mereka ditemukan oleh tahanan politik 1965-66, rekan-rekan sependeritaan sebagai orang yang dibuang. Read the rest of this entry

Advertisements

Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu…

Judul: Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu…
Penerbit      :  Diva Press
Pengarang  :  Wiwid Prasetyo

SINOPSIS:

“Mereka boleh makan nasi dan kami hanya makan jagung dan ketela, tetapi isi kepala yang keluar bisa saja berbeda. Kecerdasan tidak melulu ditentukan oleh apa yang mereka makan, tetapi dari kemauan keras dan usaha untuk mencapainya.”
* * *
Wenas adalah cermin bocah miskin negeri ini. Walau untuk makan pun kesulitan, cita-cita Wenas untuk bersekolah tak pernah pupus!
Wenas sangat mengerti bahwa hidup adalah perjuangan. Perubahan tidak akan terjadi bila ia berpangku tangan. Bersama kawan-kawan sebayanya, ia berusaha mencari uang dengan berjualan koran. Tapi, uang dari berjualan koran itu tidak serta-merta membuat keadaannya menjadi lebih baik. Wenas dan teman-temannya terlibat konflik yang membuat mereka terpecah-belah.
Read the rest of this entry