Blog Archives

Arus Balik

Judul buku : ARUS BALIK
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tahun terbit: 1995
Cetakan: 3
Cover: Hard Cover
Harga : Rp. 75.000,00
Status : NFS

Sinopsis:
Semasa jayanya Majapahit, Nusantara merupskan kesatuan maritim dan kerjaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari selatan ke utara, segalanya: kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan ke ‘Atas Angin’ di utara. Tapi zaman berubah…

Arus berbalik — bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara… Perpecahan dan kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya.

Wiranggaleng — pemuda desa sederhana, menjadi tokoh protagonis dalam epos kepahlawanan yang maha dahsyat ini. Dia bertarung sampai ke pusat kekuasaan Portugis di Malaka, memberi segala-galanya — walau hanya secauk pasir sekalipun — untuk membendung arus utara.

Masih dapatkah arus balik membalik lagi?

Korupsi

Judul: KORUPSI
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: NV Nusantara
Cetakan:  ke 2 tahun 1961
Hal: 156

Sinopsis:
Sumber: http://iekamazkia.blogspot.com/2012/01/sinopsis-cerpen-korupsi-pramoedya.html

Pada awalnya korupsi terpaksa dilakukan seorang pegawai kecil yang sudah tua bernama Bakir, yang hidup bersama istri yang bernama Mariam dan empat anaknya, Bakri, Bakar, Basir, dan Basiroh. Disebuah rumah, dengan beberapa kamarnya disewakan, gara-gara tekanan ekonomi dan inflasi, dan gaji yang kecil sudah tidak mampu membiayai hidup keluarganya. Kegelisahan terus membayanginya dan akhirnya terniatlah dalam hati, seperti sudah jamak dimasa ini korupsi. Korupsi seperti yang dilakukan lebih dulu oleh rekan-rekanya.
Niatan untuk berkorupsi itu mulai direncanakan. Pagi hari saat akan berangkat kerja, semangat begitu paras, tapi dalam pikiranya masih tidak mengijinkan dengan segera. Datanglah kau tekad Bakir berkata dalam hatinya untuk meyakinkan diri dan memulai semuanya. Ya lambat-lambat keyakinan itu datang, dan pikiran telah menyuruh untuk mengingat siapa sasaran pertama kali, dan terlintaslah nama Taoke orang yang menyewa sebagian rumahnya dan sekaligus orang yang sudah berkali-kali berusaha menyogoknya.Genderang perang dalam dada melantang, Bakir mulai berangkat bertempur. Di mulainya dengan mengambil dan menjual benda kantor seperti bungkusan kertas stensil dan dijualnya ketempat penjualan harta curian. Dan uang duapuluh ribu didapatnya.

Read the rest of this entry

Midah si Manis Bergigi Emas

Midah si Manis Bergigi Emas
oleh: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Edisi : Soft Cover
ISBN-13 : 9789799731272
Tgl Penerbitan : 2003-00-00
Bahasa : Indonesia
Halaman : 134

Sinopsis
Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beguna. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan “si manis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari stu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga…

Perawan Dalam Cengkeraman Militer

Judul: Perawan Dalam Cengkeraman Militer
ISBN / EAN: 9789799023483 / 9789799023483
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer, koesalah Soebagyo Toer,
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Halaman: 218

SINOPSIS:
Catatan Pramoedya Ananta Toer tentang derita gadis-gadis Indonesia yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang pada masa perang dunia.

RESENSI:

Sepucuk Surat Getir kepada Generasi Baru
oleh: Ruth Indiah Rahayu

Tak seorang pun yang dapat menolong mereka. Di sini pula mereka kehilangan segala-galanya: kehormatan, cita-cita, harga diri, hubungan dengan dunia luar, peradaban dan kebudayaan …suatu perampasan total. Kalimat yang dicuplik ini menggambarkan keadaan 228 perempuan muda dari Jawa yang diangkut kapal laut ke Pulau Buru. Mereka dibawa ke benteng bawah tanah yang terletak di Gunung Palamada dan menjalani kerja paksa sebagai budak seksual tentara Jepang selama Perang Asia Timur Raya. Dapat dibayangkan, para perempuan itu seperti daun sirih segar yang bakal dikunyah tandas oleh tentara itu. Mereka kemudian ditinggalkan seperti sampah dalam benteng ketika Jepang kalah. Sejak saat itu, perempuan-perempuan itu memasuki episode penderitaan berikutnya dalam rentang perjalanan yang tak pernah dipilihnya, hingga akhirnya mereka ditemukan oleh tahanan politik 1965-66, rekan-rekan sependeritaan sebagai orang yang dibuang. Read the rest of this entry